Enter your email address below and subscribe to our newsletter

90% Emiten Penuhi Laporan Keberlanjutan

Ekonomi – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat tingkat kepatuhan perusahaan tercatat (emiten) dalam menyampaikan laporan keberlanjutan (sustainability report) terus menunjukkan tren positif, tercermin dari jumlah emiten yang melapor kini mencapai 90% lebih,“Memang belum 100% emiten menyampaikan laporan keberlanjutan, karena tidak semuanya juga menyampaikan laporan keuangan tepat waktu,karena itu kan satu paket antara laporan keuangan dengan laporan keberlanjutan,”kata Direktur Pengembangan BEI, Jeffrey Hendrik di Jakarta, kemarin.

Disampaikannya, pemenuhan kewajiban pelaporan tersebut sesuai dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 51/POJK.03/2017 tentang Penerapan Keuangan Berkelanjutan bagi Lembaga Jasa Keuangan, Emiten dan Perusahaan Publik.

Dia pun menambahkan bahwa tidak ada kendala teknis yang dihadapi perusahaan dalam mengimplementasikan pelaporan Environmental, Social and Governance (ESG) tersebut. Menurutnya, tingginya tingkat kepatuhan emiten terhadap implementasi ESG penting untuk menjaga daya saing pasar modal Indonesia di mata dunia.

Pihaknya pun berkomitmen untuk memfasilitasi keterbukaan tersebut agar pasar modal domestik lebih adaptif terhadap kebutuhan investor modern yang mengutamakan keberlanjutan.”Kami berharap pasar modal Indonesia akan lebih beradaptasi sehingga akan menarik banyak investor global maupun investor domestik yang dari hari ke hari semakin peduli dengan penerapan prinsip-prinsip ESG ini,” kata Jeffrey.

Dia mengatakan, transparansi ESG kini bukan lagi sekadar pelengkap proses bisnis perseroan, tapi dapat mempengaruhi ekspektasi para investor global maupun domestik. Pelaporan aktivitas keberlanjutan yang baik, lanjut dia, akan membantu investor memahami bagaimana perusahaan mengelola risiko terkait iklim dan sosial, serta strategi penciptaan nilai jangka panjang.

Ke depannya, BEI berkomitmen untuk memperluas indeks ESG serta mendukung pencatatan instrumen keuangan hijau, seperti sukuk hijau (green bonds) dan produk investasi berkelanjutan lainnya. Langkah tersebut diharapkan dapat memobilisasi modal menuju proyek-proyek yang mendorong pertumbuhan ekonomi transisi di Indonesia.“Laporan ESG yang kredibel membangun kepercayaan investor dan mendukung nilai perusahaan yang berkelanjutan,” ucap Jeffrey.

Exit mobile version