Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Penguatan UMKM: Hasto Wardoyo Ajak Bangun Ekonomi Berdikari dan Berbasis Ideologi Bangsa

Share your love

Nasional – Penguatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dinilai sebagai kunci untuk mengatasi kemiskinan, pengangguran, sekaligus membangun kemandirian ekonomi nasional. Hal ini disampaikan oleh Wali Kota Yogyakarta, Dr. (H.C) dr. H. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K), dalam sambutannya pada Studentpreneur Bootcamp 2025 di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sabtu (19/7).

Menurut Hasto, kemandirian ekonomi harus dibangun tidak hanya dengan strategi bisnis, tetapi juga dengan semangat ideologi kebangsaan. Ia mengingatkan bahwa bangsa Indonesia harus mampu berdikari, memproduksi, dan mengonsumsi hasil sendiri, serta tidak sepenuhnya bergantung pada produk asing.

“Lebih baik kita minum air sendiri, memakai baju buatan sendiri. Bukan untuk membenci produk asing, tapi demi cinta pada kemandirian bangsa,” ujarnya.

Hasto juga mengungkapkan pengalamannya saat menjabat sebagai Bupati Kulonprogo, di mana ia berhasil membangun sistem ekonomi lokal melalui konsep closed loop, yang mencakup mulai dari produksi hingga konsumsi. Ia mendorong perusahaan daerah untuk memproduksi air kemasan sendiri, yang diberi nama “Airku”, yang berhasil menggerakkan ekonomi lokal dan mengurangi aliran modal keluar (capital flight).

Di Yogyakarta, yang memiliki sumber daya alam terbatas, strategi pembangunan ekonomi difokuskan pada penguatan UMKM berbasis sumber daya manusia. Salah satunya adalah melalui sistem reseller warung rakyat yang menyasar masyarakat miskin agar bisa mengakses kebutuhan pokok sekaligus membuka lapangan kerja.

Hasto juga menyoroti potensi besar UMKM batik di Yogyakarta. Ia menyebutkan bahwa ada 65 ribu siswa yang membeli batik setiap tahun sebagai peluang pasar yang harus dimanfaatkan oleh UMKM lokal. Pemerintah kota, kata dia, tengah menyelesaikan pendaftaran hak kekayaan intelektual untuk batik khas Yogyakarta demi melindungi produk lokal.

Dalam hal pangan, Hasto mendorong diversifikasi bahan makanan agar tidak bergantung pada beras. Makanan alternatif seperti mie dari singkong dan produk pangan lokal lainnya dinilai sangat potensial untuk dikembangkan.

“Sandang, pangan, dan papan harus berada di tangan kita sendiri, kita harus menguasainya. Kalau kita menguasai pasar sendiri, pertumbuhan ekonomi kita bisa mencapai 60 persen di tangan kita,” imbuhnya.

Di akhir sambutannya, Hasto menekankan bahwa tantangan terbesar saat ini bukan hanya soal teknologi atau globalisasi, tetapi juga lemahnya semangat ideologi kebangsaan. Ia mencontohkan Korea Selatan yang berhasil bangkit karena memiliki visi kuat dalam pendidikan dan nasionalisme.

“Memerangi teknologi asing mungkin berat, kita kalah, kita sudah ketinggalan dari Jepang, Korea Selatan, apalagi China. Tapi perang yang paling hebat adalah perang ideologi. Marilah kita memerangi kekalahan teknologi itu dengan ideologi. Lebih baik pakai baju karya sendiri daripada baju asing. Kita tidak sedang membenci asing, tapi kita hanya cinta pada kemandirian,” pungkasnya.

Sumber

Share via
Copy link