Newsletter Subscribe
Enter your email address below and subscribe to our newsletter
Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Nasional – Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), hingga Februari 2025, jumlah penduduk yang bekerja mencapai 145,77 juta orang, naik 3,59 juta orang dibanding Februari 2024. Kenaikan ini menjadi sinyal kuat bahwa arah kebijakan ekonomi nasional berjalan di jalur yang tepat mendorong penciptaan lapangan kerja dan memperkuat kesejahteraan rakyat.
“Lonjakan jumlah pekerja ini tidak lepas dari penguatan sektor riil, program padat karya, serta meningkatnya investasi di industri hilir,” kata Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, dalam konferensi pers di Jakarta (5 Mei 2025).
Peningkatan jumlah pekerja ini terjadi di berbagai sektor. Pertanian dan industri pengolahan masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar. Program lumbung pangan nasional (food estate) di Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara memberi peluang kerja baru bagi petani dan tenaga lapangan.
Sementara itu, di sektor industri, program hilirisasi nikel, tembaga, dan kelapa sawit turut membuka banyak peluang kerja tidak hanya di pabrik, tapi juga di transportasi, logistik, hingga usaha kecil sekitar kawasan industri.
Kementerian Ketenagakerjaan mencatat, program padat karya tunai sepanjang awal 2025 telah menyerap lebih dari 400 ribu tenaga kerja di proyek-proyek infrastruktur kecil, mulai dari perbaikan irigasi, pembangunan jalan desa, hingga renovasi fasilitas publik. Di sisi lain, sektor UMKM dan ekonomi digital juga tumbuh cepat berkat dukungan pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) serta pelatihan digitalisasi usaha.
“Lapangan kerja yang tercipta hari ini bukan hanya di kota besar, tapi juga di desa. Ini membuktikan pembangunan ekonomi sekarang lebih merata,” ujar Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziyah.
Meski tingkat pengangguran terbuka (TPT) masih berada di kisaran 4,76%, tren penurunan menunjukkan arah positif. Dengan angkatan kerja mencapai 153 juta orang, semakin banyak rakyat kini memiliki pekerjaan dan penghasilan yang lebih stabil.
Pemerintahan Prabowo-Gibran sejak awal menargetkan penciptaan 19 juta lapangan kerja baru selama lima tahun masa jabatan. Dengan kenaikan lebih dari 3,5 juta pekerja hanya dalam tahun pertama, target itu terlihat realistis jika momentum pertumbuhan ekonomi di kisaran 5% terus terjaga.
Tentu, masih banyak tantangan: pemerataan upah, peningkatan produktivitas, dan peralihan tenaga kerja informal ke sektor formal. Namun, capaian ini menunjukkan fondasi ekonomi rakyat sedang dibangun dari bawah bukan hanya lewat proyek besar, tapi melalui keberpihakan pada pekerja, petani, dan pelaku usaha kecil.
Era Prabowo Subianto menandai babak baru: ketika pertumbuhan ekonomi tidak hanya terlihat di grafik, tapi terasa di dompet rakyat kecil. Ketika pembangunan tidak sekadar beton dan gedung tinggi, tetapi kesempatan kerja dan harapan hidup yang nyata bagi jutaan keluarga Indonesia.
Kompas