Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Jelang Nataru 2026, Pedagang Pastikan Pasokan Cabai Aman

Share your love

Nasional – Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026, pasokan cabai nasional dipastikan dalam kondisi aman dengan harga yang relatif stabil. Pedagang cabai di Pasar Induk Kramat Jati (PIKJ), Jakarta Timur, menilai langkah cepat Kementerian Pertanian (Kementan) dalam menjaga distribusi pangan menjadi faktor penting terciptanya stabilitas pasar.

Pedagang cabai PIKJ, Guntur, mengapresiasi upaya Kementan yang turun langsung membantu petani, khususnya di wilayah terdampak bencana di Aceh. Menurutnya, kebijakan tersebut tidak hanya melindungi petani, tetapi juga memberi kepastian pasokan bagi pasar induk.

“ALHAMDULILLAH sudah ada gerak cepat dari Kementerian Pertanian untuk tolong teman-teman, saudara-saudara kita yang kena bencana di Aceh,” ujar Guntur.

Guntur menjelaskan, para pedagang di Pasar Induk Kramat Jati terus berkoordinasi untuk memastikan distribusi cabai berjalan lancar sehingga harga tetap kondusif dan tidak menimbulkan gejolak di pasar.

“Kami koordinasi dengan teman-teman di Pasar Induk Kramat Jati untuk gerak cepat nanti bagaimana pendistribusiannya agar kita bisa kondusif, harga tetap stabil di pasar, dan tidak ada gejolak di Pasar Induk Kramat Jati,” jelas Guntur.

Guntur optimis hingga akhir tahun harga cabai masih akan terjaga. Pasokan, kata dia, tidak hanya bergantung dari satu wilayah, melainkan berasal dari berbagai sentra produksi nasional.

“Untuk sampai akhir tahun nanti kemungkinan harga cabai stabil untuk menghadapi Nataru. Kalau untuk menghadapi Nataru, kemungkinan harga cabai masih tetap terkontrol aman,” kata Guntur.

Guntur menambahkan, saat ini panen cabai dari Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat mulai melimpah. Selain itu, pasokan juga datang dari Sulawesi Selatan dan Aceh.

“Soalnya saat ini selain panenan dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat juga sudah mulai banyak panen. Terus tambah lagi ada pasokan dari Sulawesi Selatan dan juga dari Aceh. Jadi insyaallah nanti sampai Nataru harga terkontrol aman,” imbuh Guntur.

Sehari sebelumnya, Mentan Amran mengambil langkah konkret dengan menyerap langsung hasil panen petani cabai di Aceh. Sebanyak 40 ton cabai dari sentra produksi di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah dibeli dan segera didistribusikan dengan 15 ton di antaranya dikirim langsung ke Jakarta menggunakan pesawat Hercules TNI Angkatan Udara dari Bandara Rembele menuju Bandara Halim Perdanakusuma. Dalam penyalurannya, Kementan berkoordinasi dengan pedagang cabai di PIKJ.

Amran menegaskan, kebijakan distribusi ini dirancang agar seluruh mata rantai pangan berjalan seimbang.

“Kita ingin semua tersenyum. Petani tersenyum, pedagang tersenyum, dan konsumen tersenyum karena harga tetap stabil. Jangan ada berteriak salah satunya,” kata Amran.

Melalui langkah tersebut, Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan komitmennya menjaga stabilitas harga cabai menjelang Nataru, memastikan hasil panen petani terserap pasar, serta memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah situasi darurat dan pascabencana.

Kementan memastikan pasokan cabai akan kembali normal setelah sempat berkurang saat Nataru 2026 dan faktor cuaca. Artinya dengan pulihnya pasokan, harga cabai rawit merah di pasaran diperkirakan segera stabil.

Lebih lanjut, jelang Nataru 2026, panen cabai dan bawang merah berlangsung di beebagai wilayah sentra produksi. Kondisi ini mendorong peningkatan pasokan dan membuat harga dua komoditas hortikultura tersebut mulai terkoreksi di tingkat petani dan pedagang. Hal sekaligus mengurangi kekhawatiran publik terkait potensi lonjakan harga jelang libur panjang akhir tahun.

Sejumlah daerah mencatat panen cabai cukup luas. Di wilayah Cianjur, Jawa Barat, panen mencapai 500 hektare. Sedangkan di berbagai kabupaten di provinsi Jawa Tengah mengalami kondisi yang sama seperti Temanggung tercatat panen 150 hektare, Banjarnegara 200 hektare, dan Magelang 700 hektare. Kemudian di wilayah Solok, Sumatera Barat juga mencatatkan panen sekitar 350 hektare, serta wilayah Enrekang, Sulawesi Selatan juga setidaknya tercatat 170 hektare cabai siap panen.

Sebelumnya, Ketua Asosiasi Champion Cabai Indonesia, Tunov Mondro Atmodjo, menegaskan pasokan cabai dari berbagai sentra berada dalam kondisi aman. “Secara umum, Cabai Rawit Merah, Cabai Keriting, Cabai Besar, hingga Cabai Rawit Hijau produksinya aman. Area tanam yang masuk fase panen cukup banyak,” kata Tunov.

Share via
Copy link