Newsletter Subscribe
Enter your email address below and subscribe to our newsletter
Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Nasional – Pemerintah memastikan pasokan dan harga daging sapi menjelang Ramadan dan Idul Fitri 2026 berada dalam situasi aman dan terkendali. Ketersediaan stok dinilai mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, sementara harga di tingkat konsumen masih berada di bawah harga acuan yang telah ditetapkan pemerintah.
Kepastian tersebut disampaikan setelah Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) melakukan koordinasi dengan para pelaku usaha daging sapi nasional, mulai dari importir, peternak, hingga pedagang. Koordinasi ini melibatkan sejumlah asosiasi, di antaranya Gapuspindo, APDI, dan JAPPDI.
Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Ditjen PKH Kementerian Pertanian, Makmun, mengatakan hasil rapat menunjukkan kondisi stok nasional masih dalam posisi aman. Ia menegaskan masyarakat tidak perlu khawatir menghadapi lonjakan kebutuhan menjelang hari besar keagamaan. “Kami sampaikan, stok daging sapi nasional saat ini dalam kondisi cukup,” ujar Makmun.
Terkait adanya pergerakan harga di sejumlah wilayah, hal tersebut dipicu oleh kenaikan harga sapi di negara asal impor. Meski demikian, pemerintah dan pelaku usaha telah menyepakati langkah pengendalian agar dampaknya tidak dirasakan langsung oleh konsumen. Dalam kesepakatan bersama tersebut, harga daging sapi di pasar akan tetap dijaga agar tidak melampaui harga acuan pemerintah.
Dari sisi pedagang, dukungan terhadap langkah pemerintah disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI), Yayan Suryana. Ia menegaskan para pedagang pada prinsipnya siap bekerja sama untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga daging sapi di pasar menjelang Ramadan dan Idul Fitri.
Dalam kesempatan yang sama, Yayan juga mengimbau para pedagang daging, khususnya yang beroperasi di wilayah Jabodetabek, agar tetap menjalankan aktivitas perdagangan dan tidak melakukan aksi penghentian penjualan. “Kami mohon rekan-rekan pedagang daging untuk tidak berhenti beraktivitas. Insyaallah ada solusi terbaik untuk semua pihak,” kata Yayan.
Seluruh pelaku usaha diminta menahan diri dan menjaga stabilitas pasar selama Ramadan hingga Idul Fitri. Ketenangan harga menjadi faktor penting agar masyarakat dapat menjalankan ibadah dengan nyaman.
Dari kalangan pemotong dan pedagang di tingkat hulu, Ketua Umum Jaringan Pemotongan dan Pedagang Daging Indonesia (JAPPDI), Asnawi, menjelaskan bahwa rapat koordinasi bersama pemerintah menghasilkan kesepakatan terkait pengendalian harga timbang hidup.
Asnawi menyebutkan harga timbang hidup disepakati berada di kisaran Rp53–54 ribu per kilogram agar tidak memicu lonjakan harga karkas di Rumah Potong Hewan (RPH). “Dengan skema ini, harga karkas dijaga di kisaran Rp104–105 ribu per kilogram untuk dua pekan ke depan,” ujar Asnawi.
Kondisi tersebut membutuhkan kolaborasi lintas pihak untuk menjaga kondusivitas pasar. Pemerintah akan turun langsung ke lapangan untuk memastikan kesepakatan dijalankan.
Adapun dari sisi pelaku usaha sapi potong, Direktur Eksekutif Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo), Djoni Liano, menegaskan bahwa meskipun terdapat tekanan dari pasar global dan fluktuasi nilai tukar, ketersediaan sapi potong nasional tetap dalam kondisi aman.
Djoni memastikan stok sapi potong yang dimiliki para anggota Gapuspindo cukup untuk memenuhi peningkatan kebutuhan selama Ramadan hingga Idul Fitri. Dengan kondisi tersebut, ia meminta masyarakat tidak khawatir terhadap pasokan daging sapi di pasar.
Lebih lanjut untuk mendorong peningkaan populasi sapi dan stok daging dalam negeri maka Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas telah meluncurkan Program Sapi Merah Putih dalam Pameran Flora & Fauna (FLONA) 2025. Program ini diproyeksikan menjadi penopang utama swasembada pangan nasional sekaligus memperkuat penyediaan protein hewani untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sekretaris Utama Badan Gizi Nasional (BGN), Sarwono, menyampaikan bahwa ketersediaan daging dan susu berkualitas merupakan pilar penting dalam pembangunan gizi masyarakat. Menurutnya, Sapi Merah Putih hadir untuk menjawab kebutuhan tersebut.
“Pemenuhan protein anak-anak penerima MBG akan menentukan kualitas tumbuh kembang sekaligus memperkuat pondasi swasembada pangan nasional,” ujarnya.
Menteri PPN/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy menilai inisiatif ini sebagai terobosan penting dalam sejarah pembangunan pangan Indonesia.
“Setelah 80 tahun merdeka, lahir 120 sapi kembar identik yang kemudian dipilih 80 ekor sebagai Sapi Merah Putih. Inovasi biogenetika ini, menjadi dasar revolusi putih yang dicanangkan Presiden untuk memperkuat industri sapi perah lokal,” ungkap Rachmat.