Enter your email address below and subscribe to our newsletter

CCPIT Diajak Jadi Suplier Alat Produksi Pertanian Dalam Ekosistem Kopdes

Share your love

Nasional – Menteri Koperasi, Ferry Juliantono mengajak China Council for the Promotion of International Trade (CCPIT) dapat menjadi suplier peralatan produksi pertanian bagi para petani di Indonesia, sehingga dapat meningkatkan hasil produksi yang lebih melimpah.

Oleh karena itu, Kementerian Koperasi (Kemenkop) perlu melakukan kolaborasi bersama CCPIT in Indonesia dan Induk Koperasi Unit Desa dalam mempercepat operasionalisasi Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.

Bagi Ferry, sebagai sebuah organisasi perdagangan terbesar di Tiongkok, kehadiran CCPIT dapat membentuk sebuah ekosistem ekonomi berkelanjutan bagi pengembangan koperasi di Indonesia.

“Saya meyakini kolaborasi seperti ini bakal memperkuat ekosistem bisnis yang sedang kita bangun bagi Kopdes Merah Putih,” ucap Menkop, usai menerima audiensi dengan Representatif dari CCPIT in Indonesia Mr. Li Feng dan Ketua Induk KUD Portasius Nggedi, di Jakarta.

Ferry menilai, sektor pertanian desa bisa memperkuat ketahanan pangan nasional apabila dikelola secara kolektif melalui koperasi. “Karena itu, Kopdes Merah Putih diminta menjadikan pertanian sebagai unit usaha utama,” kata Menkop.

Selama ini, Ferry menjelaskan, potensi sumber daya alam desa masih banyak yang belum disentuh secara optimal. Padahal, desa-desa di Indonesia menyimpan lahan dan komoditas pertanian yang dapat dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pangan, sekaligus menciptakan nilai ekonomi.

“Kalau potensi itu dikelola bersama, dampaknya bisa dirasakan luas, bukan hanya oleh anggota koperasi, tetapi juga masyarakat sekitar,” ucap jelas Ferry.

Lebih dari itu, Ferry juga mengungkapkan, keterlibatan koperasi dalam pengelolaan pertanian dapat menciptakan efek ganda bagi perekonomian desa. Selain meningkatkan produksi pangan, aktivitas usaha koperasi dinilai mampu membuka ruang kerja dan memperkuat rantai ekonomi lokal.

“Maka, keberadaan Kopdes Merah Putih harus diarahkan pada pengelolaan potensi spesifik yang dimiliki masing-masing daerah, bukan sekadar menjalankan usaha seragam. Pendekatan ini dinilai lebih adaptif terhadap kondisi dan kebutuhan desa,” ungkap Ferry.

Lebih lanjut, pemerintah terus memperkuat langkah menuju swasembada pangan nasional melalui transformasi sektor pertanian berbasis teknologi modern.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa kemajuan alat dan mesin pertanian (alsintan) menjadi pilar penting dalam meningkatkan produktivitas dan efisiensi pertanian Indonesia. Ia menyebut bahwa kehadiran alat ini merupakan bukti nyata transformasi menuju pertanian modern yang berkelanjutan.

“Kita melakukan transformasi dari pertanian tradisional ke pertanian modern. Kita pakai drone untuk memupuk dan menanam, menerapkan precision agriculture dan smart farming. Dengan pertanian modern, biaya produksi turun dan produktivitas meningkat,” ujar Amran.

Amran menjelaskan bahwa alat ini bukan hanya simbol kemajuan mekanisasi pertanian, tetapi juga tonggak penting dalam mendorong kemandirian teknologi pertanian nasional. Diharapkan alat ini terus dikembangkan, bahkan nanti bisa berbasis baterai dan robotik.

“Jadi ke depan, generasi milenial dan Gen Z dapat mengolah lahan dan panen secara otomatis dari jarak jauh. Itulah mimpi pertanian masa depan,” ungkap Amran.

Menurut Amran, harga alsintan saat ini juga semakin terjangkau berkat efisiensi produksi dalam negeri. Ini kemajuan luar biasa yang membuat petani semakin mudah mengakses teknologi,

“Combine harvester dulu harganya Rp600 juta, sekarang hanya sekitar Rp300 juta. Rice transplanter dari Rp60 jutaan kini bisa Rp10 jutaan” ujar Amran.

Amran menambahkan, penerapan alsintan modern telah mengubah pola kerja di sektor pertanian. Jika dulu satu hektare sawah membutuhkan 25 orang untuk menanam, kini hanya diperlukan satu operator dengan bantuan mesin.

“Dengan teknologi, produktivitas naik, indeks pertanaman meningkat, dan biaya produksi menurun. Semua ini membawa kita semakin dekat pada cita-cita swasembada pangan nasional,” jelas Amran.

Sebelumnya, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) juga bertekad untuk terus meningkatkan peran strategis industri alat mesin pertanian (alsintan) nasional guna mendukung peningkatan produktivitas dan efisiensi sektor pertanian di Indonesia. Oleh karenanya, penguatan industri alsintan menjadi langkah penting dalam mendorong transformasi sektor pertanian menuju mekanisasi yang lebih maju dan berkelanjutan.

Share via
Copy link