Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Menteri Bahlil Lahadalia Targetkan Pengurangan Impor Bensin 3,6 Juta KL

Share your love

Nasional – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan penurunan signifikan impor bensin beroktan tinggi hingga 3,6 juta kiloliter (kl) per tahun. Ambisi ini didorong oleh beroperasinya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Balikpapan yang diharapkan menjadi tulang punggung kemandirian energi nasional.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan, kebutuhan bensin nasional saat ini mencapai sekitar 38,5 juta kl per tahun. Angka tersebut terbagi atas bensin RON 90 sebesar 28,9 juta kl per tahun, RON 92 sebesar 8,7 juta kl per tahun, serta RON 95 dan RON 98 sekitar 650 ribu kl per tahun. Melalui optimalisasi RDMP Kilang Balikpapan, produksi bensin dengan nilai oktan di atas RON 90 diproyeksikan meningkat hingga 5,5 juta kl per tahun. Peningkatan ini, menurut catatan Mureks, akan menekan impor bensin RON 92, RON 95, dan RON 98 hingga sekitar 3,6 juta kl per tahun.

Bahlil menambahkan, upaya penghematan impor tidak berhenti di situ. “Ke depan, melalui penerapan E10 kita dapat menghemat impor hingga 3,9 juta kl per tahun, dan melalui pengembangan kilang selanjutnya kita dapat menyetop impor bensin RON 92, 95, dan 98 serta mengurangi impor bensin RON 90,” ungkap Bahlil, Senin (19/1/2026).

Selain bensin, bertambahnya kapasitas Kilang Balikpapan juga membuka peluang bagi Indonesia untuk menghentikan impor solar. Kebutuhan solar nasional tercatat sebesar 39,8 juta kl per tahun. Dari jumlah tersebut, program B40 menyumbang pasokan Fatty Acid Methyl Ester (FAME) sebesar 15,9 juta kl per tahun, sehingga kebutuhan solar murni (B0) tersisa 23,9 juta kl per tahun. Dengan produksi nasional yang saat ini mencapai 26,5 juta kl per tahun, pemerintah menargetkan penghentian impor solar mulai pertengahan 2026.

Detail Proyek RDMP Kilang Balikpapan

Proyek RDMP Kilang Balikpapan dilengkapi dengan fasilitas utama Crude Distillation Unit (CDU) dan Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC). CDU, yang merupakan jantung dari kilang tersebut, mampu meningkatkan kapasitas pengolahan minyak mentah dari semula 260 ribu barel menjadi 360 ribu barel per hari. Sementara itu, unit RFCC berfungsi mengolah residu menjadi produk bernilai tinggi.

“Yang (RDMP) sekarang kualitasnya sangat bagus sekali, sudah menuju setara dengan Euro 5, dan ini menuju kepada net zero emission,” tegas Bahlil.

Proyek ini juga terintegrasi dengan dua tangki penyimpanan raksasa di Lawe-lawe dengan total kapasitas mencapai 2 juta barel, serta Terminal BBM Tanjung Batu berkapasitas 125 ribu kl yang siap melayani distribusi bahan bakar untuk wilayah Indonesia bagian timur.

Share via
Copy link