Newsletter Subscribe
Enter your email address below and subscribe to our newsletter
Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Ekonomi – Merespon pemangkasan rating Indonesia oleh lembaga rating internasional Moody’s Rating yang berdampak terhadap industri keuangan bank dan non bank, mendorong Danantara Indonesia angkat bicara. “Kunci utama untuk menjaga kepercayaan lembaga pemeringkat global adalah keselarasan komunikasi antara Danantara dengan kementerian terkait,”kata Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir di Jakarta, kemarin.
Disampaikannya, poin utama dari Moody’s itu adalah soal komunikasi dan arahan. Mereka perlu kepastian dan tugas Danantara dan semua unsur dari yang berkomunikasi ke luar itu harus satu suara. Pandu menjelaskan bahwa tindak lanjut atas catatan Moody’s tidak hanya dilakukan secara internal oleh Danantara. Proses tersebut akan melibatkan koordinasi intensif dengan Kementerian Keuangan dan beberapa institusi terkait lainnya untuk memastikan profil risiko negara tetap terjaga.
Menurutnya, peringatan dari lembaga pemeringkat internasional merupakan sinyal positif agar otoritas di Indonesia dapat menyampaikan narasi yang konsisten terkait dengan arah strategis ekonomi nasional. Sementara itu, langkah Moody’s Ratings yang merevisi prospek sejumlah BUMN dinilai menjadi ujian perdana bagi Danantara Indonesia untuk membuktikan efektivitas tata kelola dan koordinasi kebijakan nasional.
Sedikitnya ada tujuh korporasi yang terdampak, lima di antaranya merupakan perusahaan pelat merah yakni PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel), PT Pertamina (Persero), PT Pertamina Hulu Energi (PHE), dan PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID.
Selain pelat merah, dua raksasa swasta yakni PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) dan PT United Tractors Tbk. (UNTR) turut terdampak. Sementara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meyakini tidak ada dampak signifikan terhadap stabilitas industri perbankan nasional setelah Moody’s merevisi outlook sovereign credit rating Indonesia menjadi negatif dan menurunkan outlook lima bank.“Saya optimistis tidak akan ada dampak yang signifikan. Tentu saja, sebagaimana yang disampaikan Moody’s, ini adalah konsekuensi penurunan outlook secara menyeluruh,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan (KEPB) OJK, Dian Ediana Rae.
Dian mengatakan, pihaknya juga tidak khawatir atas perubahan outlook Moody’s ini mengingat tidak ada isu yang bersifat struktural. Menurutnya, bank-bank di Indonesia, termasuk lima bank dalam outlook Moody’s, secara fundamental tetap sehat.“Bagi saya sebagai KEPB, sekarang pengawasan individual bank itu lebih penting. 105 bank umum itu memang banyak. Tapi buat saya, satu bank bermasalah saja itu sudah menjadi ‘pikiran’,” ujar dia.
Outlook dari Moody’s ini, tegas Dian, juga menjadi catatan dan tanggung jawab bersama bagi seluruh pihak terutama pemangku kepentingan dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).