Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Kontribusi UMKM dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG)

Share your love

Nasional – Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menegaskan kontribusi UMKM dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui peresmian revitalisasi dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan peluncuran Program FUSION (Food Supply Integration Opportunity Network) di Kabupaten Bandung.

Deputi Bidang Usaha Mikro Kementerian UMKM Riza Damanik saat meresmikan revitalisasi dapur SPPG Bandung Cileunyi Cimekar 1 di Pondok Pesantren Al-Kasyaf, Kamis (16/4), mengatakan revitalisasi dapur dipastikan sudah sesuai dengan standar Badan Gizi Nasional (BGN), hal ini dibuktikan lewat Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) sebagai bukti komitmen terhadap pemenuhan keamanan pangan.

Rangkaian kegiatan tersebut, Riza melanjutkan, merupakan capaian nyata dari Pilot Project Perluasan Keterlibatan UMKM dalam Ekosistem MBG yang diluncurkan tahun lalu.

“Sejak dilakukan kick-off pada 15 Mei 2025, ekosistem UMKM dalam SPPG Bandung Cileunyi Cimekar 1 telah melakukan rangkaian pelatihan, pendampingan, dan business matching yang intensif dan kemudahan akses lainnya seperti legalitas, pembiayaan, pasar dan rantai pasok,” ujar Riza.

Saat ini, Riza melanjutkan, UMKM lokal yang terlibat dalam Ekosistem MBG di Pondok Pesantren Al-Kasyaf juga semakin banyak, mulai dari yang awalnya hanya sekitar 10 UMKM.

“Melalui Ekosistem MBG, Yayasan Al Kashaf telah menunjukkan perkembangan pesat dalam mengintegrasikan ekosistem UMKM dengan program ini. Saat ini ada 50 UMKM yang terlibat, masing-masing melibatkan tenaga kerja lokal, yang menunjukkan dampak positif pada ekonomi lokal,” ujar Riza.

Terkait Program FUSION, Riza melanjutkan, hal ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara Kementerian UMKM dan Regional Trade for Development (RT4D-RCEP), dengan dukungan penuh dari Pemerintah Australia dan Selandia Baru yang bertujuan memperkuat integrasi UMKM dalam rantai pasok pangan di Jawa Barat khususnya dalam ekosistem MBG.

Menurut Riza FUSION dirancang untuk memperkuat model pemberdayaan UMKM yang sudah ada, melalui rangkaian pendampingan intensif yang lebih inklusif dan berkelanjutan, dengan menggunakan pendekatan GEDSI (Gender Equality, Disability, Social Inclusion) yang melibatkan perempuan, disabilitas, hingga metode green business.

“Saya percaya program ini akan semakin memperkuat posisi UMKM dalam ekosistem MBG, tidak hanya di hulu tapi juga sampai hilir dengan pengolahan limbah makanan,” kata Riza.

Riza juga mengucapkan terima kasih untuk seluruh kolaborator seperti Kementerian Kesehatan, Pemerintah Daerah, dan seluruh pihak yang telah berkomitmen untuk terlibat aktif dan menjaga kualitas produk dalam ekosistem MBG.

Berdasarkan data BGN pada 2026, Riza melanjutkan, secara total terdapat 38.938 UMKM yang terlibat dalam program MBG dan sekitar 80 persen kebutuhan bahan baku diperuntukan bagi UMKM.

Sebelumnya Yayasan Al Kasyaf juga telah terhubung dalam program Accelerating Capital Resources for Medium Enterprises (ACCES) yang digagas Kementerian UMKM, melalui pendampingan sampai realisasi pembiayaan yang digunakan untuk renovasi Dapur 1 dan pembukaan Dapur 2. Mulai dari penyusunan administrasi, forecasting & analisis pembiayaan, serta koneksi ke lembaga keuangan

Selain itu, Program MBG semakin menegaskan perannya sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi desa melalui penguatan sektor pangan nasional. Selain meningkatkan kualitas gizi generasi muda, program ini juga menciptakan ekosistem ekonomi yang produktif di pedesaan.

Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Esther Sri Astuti menilai bahwa penguatan sektor pangan menjadi kunci utama keberlanjutan MBG sekaligus pendorong ekonomi desa.

“Keberhasilan MBG sangat ditentukan oleh kemampuan kita memastikan pasokan bahan baku berasal dari dalam negeri,” ungkap Esther.

Esther mendorong pemerintah untuk terus memperkuat infrastruktur pertanian, termasuk irigasi, teknologi modern, serta akses pembiayaan bagi petani. Selain itu, diversifikasi pangan seperti singkong, sagu, dan porang dinilai mampu memperkuat ketahanan pangan sekaligus membuka peluang ekonomi baru di desa.

“Dengan penguatan sektor pangan, ekonomi desa akan semakin kokoh dan program MBG dapat berjalan secara berkelanjutan,” tegas Esther.

Sehingga dengan sinergi antara peningkatan gizi dan penguatan sektor pangan, MBG menjadi pilar penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi desa yang inklusif dan berkelanjutan.

Share via
Copy link