Gen Z Jadi Motor Ekonomi Desa, KoPITol NTB Dorong Anak Muda Kawal Pembangunan Nasional

Share your love

Nasional – Pembangunan ekonomi nasional tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga membutuhkan partisipasi aktif generasi muda sebagai penggerak perubahan di tingkat akar rumput. Berangkat dari semangat tersebut, Komunitas Peduli Inklusi dan Toleransi (KoPITol) Nusa Tenggara Barat (NTB) menggelar diskusi bertajuk “Maju Bersama Gen-Z (Gen-Z Ga Cuma Nongkrong, Tapi Ikut Bangun Desa)” di Dapoer Sasak, Kota Mataram, Sabtu (4/7/2026).

Kegiatan yang diikuti puluhan generasi Z dari Kota Mataram dan sekitarnya itu menjadi ruang dialog mengenai peran strategis anak muda dalam mendukung pembangunan ekonomi nasional melalui penguatan desa, peningkatan produktivitas, serta pengawasan terhadap implementasi berbagai kebijakan pemerintah.

Salah satu narasumber, aktivis Reformasi 1998 sekaligus alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB), Khalid Zabidi, menilai generasi Z merupakan aset pembangunan yang memiliki potensi besar untuk mempercepat transformasi ekonomi Indonesia.

Menurutnya, keberhasilan berbagai program strategis pemerintah sangat dipengaruhi oleh keterlibatan masyarakat, khususnya generasi muda yang kini mendominasi struktur demografi Indonesia.

“Gen Z bukan hanya menjadi kelompok yang kritis terhadap kebijakan publik, tetapi juga dapat menjadi mitra pemerintah dalam memastikan program pembangunan berjalan efektif dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Khalid.

Ia menjelaskan, pembangunan ekonomi membutuhkan optimisme jangka panjang. Program-program besar pemerintah, mulai dari pembangunan desa, penguatan ketahanan pangan, hilirisasi industri, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia, membutuhkan waktu sebelum manfaat ekonominya dirasakan secara luas.

Karena itu, menurut Khalid, generasi muda perlu memahami bahwa proses pembangunan merupakan investasi jangka panjang yang hasilnya tidak dapat diukur hanya dalam hitungan satu atau dua tahun.

“Pembangunan ekonomi membutuhkan konsistensi. Dampaknya baru akan terlihat ketika berbagai program tersebut berjalan berkesinambungan dan menghasilkan efek berganda terhadap kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Di sisi lain, Khalid menegaskan bahwa dukungan terhadap pembangunan tidak berarti menghilangkan fungsi kontrol masyarakat. Ia justru mendorong generasi Z untuk tetap menjalankan peran pengawasan secara objektif, berbasis data, dan konstruktif sebagai bagian dari praktik demokrasi yang sehat.

Menurutnya, kritik yang disampaikan secara bertanggung jawab akan menjadi masukan penting bagi pemerintah dalam memperbaiki tata kelola, meningkatkan efektivitas program, serta meminimalkan berbagai potensi penyimpangan yang dapat menghambat pertumbuhan ekonomi.

“Kita harus mampu melihat pembangunan secara utuh. Ada tantangan yang harus diselesaikan, tetapi juga ada berbagai capaian yang perlu diapresiasi. Sikap kritis harus tetap diiringi dengan solusi dan semangat kolaborasi,” ujarnya.

Khalid juga menilai komitmen pemerintah dalam menjalankan berbagai agenda pembangunan perlu terus dikawal agar mampu menghasilkan dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. Evaluasi terhadap kualitas birokrasi maupun aparatur negara, menurutnya, merupakan bagian penting untuk menciptakan tata kelola pemerintahan yang lebih efektif dan berintegritas.

Dalam forum tersebut, ia mengingatkan bahwa generasi Z yang diperkirakan berjumlah sekitar 80 juta jiwa merupakan bonus demografi yang dapat menjadi kekuatan utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional apabila diarahkan pada kegiatan yang produktif.

“Anak muda memiliki energi, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi terhadap teknologi. Jika potensi itu diarahkan untuk membangun desa, mengembangkan UMKM, menciptakan inovasi digital, dan mengawal pembangunan, maka mereka akan menjadi motor penggerak ekonomi Indonesia pada masa depan,” kata Khalid.

Sementara itu, KoPITol NTB menegaskan bahwa forum diskusi tersebut bukan ditujukan untuk membentuk organisasi formal, melainkan menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan berbagai kalangan muda untuk bertukar gagasan, memperluas wawasan, dan membangun optimisme terhadap masa depan pembangunan Indonesia.

Melalui pendekatan yang inklusif, KoPITol berharap semakin banyak generasi muda yang tidak hanya aktif di ruang digital, tetapi juga berkontribusi langsung dalam pembangunan sosial dan ekonomi di daerah masing-masing.

Kegiatan serupa sebelumnya telah diselenggarakan di sejumlah kota seperti Bogor, Solo, dan beberapa daerah lainnya. Melalui perluasan forum diskusi ini, KoPITol ingin memperkuat partisipasi generasi muda dalam menciptakan ekosistem pembangunan yang kolaboratif, inovatif, dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari tingkat desa hingga nasional.

Share via
Copy link