Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Proyeksi Perekonomian Indonesia Tahun 2025 dengan Kenaikan PPN 12%

Share your love

Pertumbuhan Ekonomi
• Proyeksi PDB :
o Dengan implementasi PPN 12%, pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan tetap berada di kisaran 4.7% hingga 5.2% pada tahun 2025, dengan dukungan dari sektor konsumsi domestik, investasi, dan ekspor yang stabil. Namun, potensi perlambatan konsumsi akibat kenaikan PPN menjadi perhatian.
o Dampak PPN : Konsumsi domestik sebagai pendorong utama PDB (sekitar 55% kontribusi) mungkin sedikit tertekan pada semester awal 2025 karena daya beli masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah dapat tergerus.

Inflasi
• Proyeksi Inflasi :
o Tarif PPN yang naik dari 11% menjadi 12% dapat mendorong inflasi sekitar 3.5% hingga 4%, dibandingkan target jangka panjang yang berkisar di 3%. Barang kena pajak seperti elektronik, pakaian, dan barang rumah tangga akan menjadi kontributor utama.
o Namun, pemerintah diperkirakan tetap menjaga stabilitas harga barang kebutuhan pokok yang tidak dikenakan PPN, seperti beras dan susu, untuk mengurangi tekanan inflasi pada masyarakat.

  1. Konsumsi Domestik
    • Penurunan Sementara :
    o Kenaikan PPN berpotensi menekan konsumsi barang-barang non-esensial, terutama pada kelompok menengah ke bawah.
    o Namun, konsumsi barang kebutuhan pokok yang bebas PPN akan tetap stabil, menjaga daya tahan sektor ritel.
    • Pemulihan Jangka Panjang :
    o Konsumsi diprediksi mulai pulih pada paruh kedua 2025, dengan asumsi peningkatan daya beli melalui program bantuan sosial atau insentif pemerintah.
  2. Penerimaan Negara
    • Peningkatan Pajak :
    o Kenaikan tarif PPN diharapkan mampu meningkatkan penerimaan negara dari sektor pajak hingga triliunan rupiah, yang dapat digunakan untuk mendukung pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan.
    o Rasio pajak terhadap PDB (tax ratio), yang saat ini di angka 10-11%, diproyeksikan meningkat menjadi 11.5-12%.
  3. Investasi
    • Stabilitas Investasi :
    o Pemerintah berupaya menjaga daya tarik investasi melalui kebijakan insentif fiskal. Investasi di sektor manufaktur, teknologi, dan energi hijau diperkirakan tetap tumbuh.
    o Namun, sektor-sektor yang melibatkan konsumsi domestik, seperti ritel dan properti, mungkin mengalami perlambatan akibat penyesuaian harga.
  4. Sektor-sektor Terdampak
    • Barang Kena Pajak :
    o Barang elektronik, pakaian, dan makanan olahan diperkirakan mengalami penurunan permintaan sementara.
    • UMKM :
    o UMKM yang bergerak di sektor konsumsi mungkin mengalami tantangan. Dukungan berupa subsidi atau akses pembiayaan murah akan menjadi kunci keberlanjutan mereka.
    • Infrastruktur Digital :
    o Dengan penguatan penerimaan negara, pemerintah dapat meningkatkan investasi pada digitalisasi ekonomi, yang akan memperluas layanan digital perbankan dan perdagangan elektronik.
  5. Risiko Eksternal
    • Ketidakpastian Global:
    o Faktor eksternal seperti perlambatan ekonomi global dan fluktuasi harga energi juga dapat memengaruhi daya beli masyarakat dan aktivitas perdagangan internasional.
    • Kurs Rupiah :
    o Jika penerimaan negara meningkat signifikan, ini dapat memperkuat posisi fiskal Indonesia dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Kenaikan PPN menjadi 12% adalah kebijakan penting untuk meningkatkan penerimaan negara, namun pemerintah harus berhati-hati mengelola dampak terhadap konsumsi domestik dan inflasi. Dengan pengelolaan yang baik, ekonomi Indonesia diproyeksikan tetap tumbuh stabil di atas 5% pada 2025. Upaya mitigasi seperti insentif bagi UMKM, perlindungan kelompok rentan, dan stabilitas harga barang pokok akan menjadi kunci keberhasilan kebijakan ini

Share via
Copy link