Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Analisis Rantai Pasok Biodiesel

Share your love

Ekonomi – Pengembangan biodiesel merupakan salah satu opsi strategis untuk menurunkan impor minyak mentah dan BBM. Oleh karena itu, keberhasilan kebijakan biodiesel sangat bergantung pada dukungan regulasi dan koordinasi lintas sektor guna mengatasi tantangan rantai pasok, mulai dari produktivitas lahan, alokasi CPO, hingga kesiapan infrastruktur distribusi. Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Purnomo Yusgiantoro Center (PYC), Filda C. Yusgiantoro dalam sebuah diskusi di Jakarta, kemarin.

Senada juga disampaikan Edi Wibowo, Direktur Bioenergi, Direktorat Jenderal EBTKE, Kementerian ESDM, keberhasilan program ini sangat bergantung pada kesiapan rantai pasok biodiesel, mulai dari ketersediaan CPO, kapasitas produksi, hingga koordinasi dari hulu ke hilir,”Program mandatori biodiesel merupakan upaya strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional melalui pemanfaatan bahan bakar nabati berbasis sawit. Tantangan muncul karena CPO juga dibutuhkan untuk pangan dan ekspor, serta mayoritas perkebunan dikelola swasta,”ujarnya.

Kata Togu Rudianto Saragih, Ketua Kelompok Budidaya Kelapa Sawit, Direktorat Kelapa Sawit dan Aneka Palma, Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian, penguatan rantai pasok biodiesel harus diawali dari perbaikan sektor hulu sawit melalui tata kelola yang baik, serta implementasi B50 perlu pertimbangaan yang matang.

Menurut Massita Ayu Cindy, selaku Research Coordinator PYC, rekomendasi kebijakan utama, yaitu B40 dipertahankan sebagai baseline mandatori. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa bahkan pada baseline B40, rasio supply-demand biodiesel turun di bawah 100% mulai sekitar 2042. Sementara itu, skenario eskalasi blending B50–B90 mempercepat tekanan sistem, dimana rasio supply-demand biodiesel turun di bawah 100% mulai 2030, sehingga kebijakan di atas B40 secara praktis mempercepat risiko defisit pasokan.

Gulat M. E. Manurung, Ketua Umum APKASINDO, menyampaikan perhatiannya terkait peran para pemangku jabatan yang perlu meningkatkan fokusnya kepada hal-hal esensial pada proses produksi biodiesel. Disampaikan Cahyo S. Wibowo, selaku Koordinator Pengujian Aplikasi Produk, LEMIGAS, pihaknya telah melakukan banyak uji teknis terkait kompatibilitas mesin dalam implementasi biodiesel, bahkan negara lain juga banyak melakukan studi terhadap Indonesia.

Share via
Copy link