Enter your email address below and subscribe to our newsletter

BI Gelontorkan Rp77 Triliun Insentif Likuiditas UMKM Hingga 2025: Dorong Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Share your love

Nasional – Bank Indonesia (BI) telah menyalurkan Rp77 triliun insentif likuiditas UMKM hingga Agustus 2025, menjadi katalisator penting bagi pertumbuhan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah di Indonesia.

Bank Indonesia (BI) mengumumkan penyaluran insentif likuiditas makro prudensial bagi sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) telah mencapai Rp77 triliun. Dana ini dialokasikan hingga Agustus 2025 untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Pengumuman penting ini disampaikan oleh Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti di Palu.

Destry Damayanti hadir dalam acara Gelar Karya Kreatif Sulawesi Tengah (KKST) 2025 pada Rabu lalu. Ia menegaskan bahwa BI berperan sebagai katalisator utama dalam memajukan UMKM di seluruh Indonesia. Kebijakan ini bertujuan agar UMKM dapat semakin mandiri dan berdaya saing global di masa depan.

Kebijakan insentif likuiditas ini dirancang untuk meningkatkan ketersediaan dana bagi bank-bank. Hal ini secara langsung mempermudah akses pembiayaan bagi pelaku UMKM di berbagai daerah. Fokus utama kebijakan ini adalah pada sektor-sektor prioritas yang mampu mengakselerasi pertumbuhan ekonomi.

Dampak Insentif Likuiditas Terhadap UMKM dan Ekonomi Nasional

Insentif likuiditas makro prudensial yang digelontorkan oleh Bank Indonesia memiliki peran krusial dalam mempercepat roda perekonomian. Kebijakan ini secara spesifik menargetkan peningkatan likuiditas perbankan. Tujuannya adalah agar bank dapat lebih leluasa menyalurkan kredit kepada sektor prioritas, termasuk UMKM.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menjelaskan bahwa insentif ini memungkinkan bank untuk menyalurkan lebih banyak kredit. Hal ini diharapkan dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional secara signifikan. Secara khusus, insentif likuiditas untuk usaha mikro saja telah mencapai Rp21 triliun.

Lebih lanjut, Destry menyebutkan bahwa total insentif yang diberikan kepada sektor-sektor strategis lainnya telah mencapai Rp384 triliun. Angka ini menunjukkan komitmen besar BI dalam mendukung berbagai pilar ekonomi. Kebijakan ini diharapkan menjadi gerakan yang memperkuat ketahanan UMKM.

Dengan adanya dukungan finansial ini, UMKM diharapkan mampu menjalankan usaha dengan lebih tangguh. Mereka akan semakin tumbuh dan berkembang di tengah dinamika ekonomi yang ada. Bank Indonesia terus berupaya menciptakan ekosistem yang kondusif bagi pelaku usaha kecil dan menengah.

Peran QRIS dalam Transformasi Digital UMKM

Selain insentif likuiditas, Bank Indonesia juga aktif memperkuat dan mempermudah sistem pembayaran digital. Penggunaan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) menjadi salah satu fokus utama dalam transformasi ini. Sistem pembayaran ini telah diterapkan secara luas pada UMKM dan sektor strategis lainnya.

Destry Damayanti menyoroti keberhasilan implementasi QRIS, khususnya di Sulawesi Tengah (Sulteng). Dalam satu tahun terakhir, penggunaan QRIS di Sulteng menunjukkan pertumbuhan yang luar biasa, mencapai 101,8 persen. Ini mencerminkan adopsi teknologi yang pesat di kalangan pelaku usaha setempat.

Tercatat sebanyak 20,9 juta transaksi dilakukan menggunakan QRIS di Sulteng. Saat ini, terdapat sekitar 352 ribu pengguna aktif QRIS di wilayah tersebut. Secara nasional, jumlah pengguna aktif QRIS telah mencapai angka yang impresif, yakni sekitar 60 juta pengguna.

Peningkatan penggunaan QRIS ini tidak hanya mempermudah transaksi keuangan. Namun juga mendorong inklusi keuangan dan efisiensi operasional bagi UMKM. Kemudahan bertransaksi ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing UMKM di era digital.

Gelar Karya Kreatif Sulawesi Tengah (KKST) 2025: Wadah Pemberdayaan UMKM

Upaya pemberdayaan UMKM juga diwujudkan melalui berbagai kegiatan, salah satunya Gelar Karya Kreatif Sulawesi Tengah (KKST) 2025. Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Sulteng, Irfan Sukarna, menjelaskan bahwa KKST bertujuan memberdayakan UMKM. Tujuannya agar mereka bisa naik kelas dan tangguh menghadapi tantangan bisnis.

Kegiatan KKST berfokus pada pemberdayaan UMKM melalui pameran produk. Selain itu, pelatihan dan perluasan akses pembiayaan kredit bagi pelaku usaha juga menjadi agenda utama. Inisiatif ini dirancang untuk memberikan bekal yang komprehensif bagi UMKM.

KKST tahun ini diikuti oleh 31 pelaku UMKM dari berbagai kabupaten/kota di Sulteng. Mereka menampilkan beragam produk kreatif hasil karya binaan BI, merepresentasikan 172 UMKM binaan KPwBI. Pameran ini menjadi ajang promosi dan jejaring yang berharga bagi para peserta.

Acara KKST dilaksanakan selama lima hari, mulai 15 hingga 19 Oktober 2025. Tema yang diusung adalah “Mendorong komoditas unggulan UMKM tangguh, berdaya saing, dan mendunia”. Tema ini menggambarkan visi untuk membawa produk UMKM lokal ke pasar yang lebih luas, bahkan hingga kancah internasional.

Exit mobile version