Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Free Float 15% Persempit Celah Manipulasi Harga

Share your love

Nasional – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) meyakini kebijakan peningkatan batas minimal free float menjadi 15% dapat memperdalam likuiditas pasar, meningkatkan transparansi, hingga mempersempit ruang praktik manipulasi harga saham. Hal tersebut disampaika Pjs. Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik di Jakarta, kemarin.

Dirinya menjelaskan bahwa semakin besar porsi saham yang beredar di publik, maka semakin sulit pihak tertentu menggerakkan harga secara tidak wajar karena dibutuhkan dana dan volume transaksi yang jauh lebih besar.”Bayangkan saja, untuk memanipulasi free float 10 (jumlah saham beredar di publik relatif kecil), dengan memanipulasi free float 1000, itu tentu tingkat kesulitannya beda,” kata Jeffrey.

Disampaikannya, apabila pasar lebih dalam, free float lebih besar, serta transparansi lebih tinggi, diharapkan upaya-upaya manipulasi pasar dapat ditekan. Di sisi lain, pengawasan dan penindakan juga terus dilakukan. Mengenai keakuratan laporan free float emiten, Jeffrey menyebutkan bahwa tersedia mekanisme hukum bagi pihak-pihak yang memberikan informasi palsu.

Dalam hal pengawasan perdagangan, BEI memiliki perangkat untuk memantau pergerakan saham. Selain itu, bursa juga menjalankan investor stewardship dengan rutin memberikan peringatan dan informasi kepada investor. Terhadap saham-saham yang mengalami pergerakan harga di luar kewajaran, jelas Jeffrey, BEI mengeluarkan peringatan berupa unusual market activity (UMA) agar investor mencermati kembali informasi yang tersedia di pasar.

Apabila volatilitas masih berlanjut, BEI dapat melakukan suspensi perdagangan untuk memberikan waktu kepada investor mencerna informasi yang ada. Terkait pihak-pihak yang melakukan manipulasi pasar, BEI melakukan penindakan bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Jeffrey menambahkan, sejumlah pihak juga telah diberikan sanksi oleh OJK dan penindakan tersebut akan terus dilakukan.“Di sisi lain, kita juga meningkatkan transparansi. Dengan transparansi yang lebih tinggi, upaya untuk melakukan manipulasi akan lebih sulit. Kombinasi pengawasan yang terus berjalan dengan transparansi yang lebih tinggi, itu kita harapkan akan meningkatkan integritas pasar kita. Itu yang kita lakukan,” kata dia.

BEI menyadari adanya kekhawatiran terkait potensi tekanan dari sisi pasokan (supply) saham di pasar, merespons penyesuaian ketentuan free float. Oleh sebab itu, ujar Jeffrey, pihaknya menyatakan telah mengkaji berbagai dampak yang mungkin timbul agar implementasinya tetap terkelola dengan baik.

Dari total 956 perusahaan tercatat di bursa, lanjut Jeffrey, sebanyak 268 emiten saat ini masih memiliki free float di bawah 15%. Namun jika difokuskan pada 49 perusahaan di antaranya, kelompok ini dinilai telah mewakili sekitar 90% kapitalisasi pasar dari keseluruhan emiten yang belum memenuhi batas tersebut.“Bagaimana 49 perusahaan ini bisa kita atur dengan baik supaya pasar kita tetap imbang. Oleh karena itu, kami menyediakan hot desk untuk perusahaan-perusahaan tercatat bisa berdiskusi dengan kami bagaimana timing-nya disesuaikan dengan kondisi pasar supaya mereka bisa menambahkan float di pasar tetapi tidak akan mengganggu kestabilan pasar,” jelas Jeffrey.

Share via
Copy link