Newsletter Subscribe
Enter your email address below and subscribe to our newsletter
Enter your email address below and subscribe to our newsletter

UMKM – Di tangan orang-orang kreatif, sisa kain yang dianggap tak berharga bisa berubah menjadi karya bernilai tinggi. Begitulah kisah yang hidup di sebuah sudut kota di Jawa Barat, di sebuah kampung yang kini dikenal luas sebagai “Kampung Perca”.
Di kampung ini, potongan-potongan kain usang, sisa industri garmen, bisa berubah menjadi harapan baru, ekonomi keluarga yang tumbuh, dan kebanggaan akan kemandirian.
Beberapa tahun lalu, masyarakat di daerah ini hanya melihat tumpukan kain perca sebagai limbah. Warnanya mencolok, potongannya tidak beraturan, dan sering kali hanya menjadi sampah yang memenuhi halaman.
Namun, seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya ekonomi kreatif dan pengelolaan limbah ramah lingkungan, warga mulai berpikir: apa yang bisa dilakukan dengan kain-kain ini? “Dari situlah ide itu muncul. dengan modal mesin jahit sederhana dan semangat gotong royong, sekelompok ibu rumah tangga memulai usaha kecil mengolah kain perca menjadi produk bermanfaat: keset, taplak, sarung bantal, tas, hingga pakaian anak. Tak disangka, hasil karya mereka menarik perhatian pasar lokal. Pesanan mulai berdatangan, baik dari tetangga sekitar, toko oleh-oleh, hingga pemesan daring dari luar daerah,” kata Lilis, salah satu Ibu Rumah Tangga di Kampung Perca yang ikut menjadi pengrajin kain perca.
Kini, kain perca yang dulu tak berharga telah menjelma menjadi simbol ketekunan dan kemandirian ekonomi masyarakat.
Menjahit Harapan dari Sisa Kain
Tidak banyak yang tahu, di sudut timur Kota Bogor, tepatnya di Kelurahan Sindangsari, Kecamatan Bogor Timur, terdapat sebuah kampung yang mampu mengubah limbah menjadi berkah, sekaligus menghadirkan wisata berbasis kreativitas masyarakat. Kampung itu dikenal dengan nama Kampung Perca — sebuah kisah nyata tentang kebangkitan ekonomi lokal di tengah keterpurukan akibat pandemi.
Lahirnya Kampung Perca tidak bisa dilepaskan dari masa kelam pandemi Covid-19 yang sempat melumpuhkan perekonomian. Saat pemerintah menerapkan pembatasan mobilitas, banyak warga kehilangan pekerjaan.
Data Pemkot Bogor mencatat, saat terjadi bencana pandemi Covid, di Kelurahan Sindangsari jumlah pengangguran meningkat drastis hingga 52,75 persen, dari 182 menjadi 278 orang, sementara tingkat kemiskinan melonjak dua kali lipat menjadi 1.190 kepala keluarga.
Melihat kondisi ini, warga dan pemerintah setempat berinisiatif mencari solusi. Dalam forum Rembug Warga, masyarakat bersama perangkat kelurahan duduk bersama, membahas potensi yang bisa digerakkan tanpa harus keluar rumah. Dari sanalah muncul ide sederhana namun brilian: mengolah limbah kain perca—sisa produksi pabrik konveksi di sekitar Bogor—menjadi produk bernilai ekonomi.