Newsletter Subscribe
Enter your email address below and subscribe to our newsletter
Enter your email address below and subscribe to our newsletter
Nasional – Masyarakat penanam gula aren organik asal Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, kembali menorehkan capaian membanggakan dengan berhasil menembus pasar ekspor global. Produk gula aren organik tersebut kini telah dipasarkan ke Belanda, Malaysia, dan Australia.
Pekebun yang tergabung dalam Kelompok Tani Akur X melalui badan usaha CV Temon Agro Lestari, Desa Temon, Kecamatan Arjosari, mencatatkan pengiriman gula aren organik ke Belanda sebanyak 1 ton, Malaysia 10 ton, serta Australia sebesar 500 kilogram (kg).
Sebagai informasi, Kelompok Tani Akur X merupakan kelompok binaan Kementerian Pertanian, khususnya Direktorat Jenderal Perkebunan, melalui Program Desa Pertanian Organik Berbasis Komoditas Perkebunan. Program ini mendorong pengembangan komoditas perkebunan berkelanjutan yang berorientasi pada peningkatan daya saing dan akses pasar ekspor.
Melalui pendampingan tersebut, Direktorat Jenderal Perkebunan memfasilitasi berbagai dukungan, mulai dari bantuan ternak ruminansia, sarana dan prasarana pembuatan pupuk kompos, hingga pelatihan pra-sertifikasi dan fasilitasi sertifikasi organik.
Fasilitasi ini mendorong pekebun memproduksi pupuk kompos secara mandiri dan menerapkannya di lahan perkebunan. Hingga saat ini, lahan aren yang telah tersertifikasi organik mencapai 15,66 hektare dengan melibatkan 25 pekebun, serta memiliki potensi produksi sekitar 18 ton per tahun.
Manfaat sertifikasi organik pun dirasakan langsung oleh pekebun, karena memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Harga jual gula aren meningkat, dari sebelumnya Rp20.000 per kilogram menjadi Rp30.000 per kilogram, atau naik Rp10.000 dibandingkan produk konvensional.
Dalam pengembangan komoditas perkebunan berorientasi ekspor, Ditjen Perkebunan terus memperkuat sinergi lintas sektor dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk dunia usaha, guna memperluas akses pasar dan mendorong hilirisasi produk perkebunan.
Sebagai bagian dari dukungan terhadap ekspor komoditas perkebunan, pada 13 Februari 2026 dilaksanakan pelepasan ekspor gula aren organik produksi Kelompok Tani Akur X yang difasilitasi melalui kemitraan dengan sektor swasta.
Secara terpisah, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa keberhasilan ekspor gula aren organik dari Pacitan menjadi bukti nyata daya saing produk perkebunan rakyat di pasar global.
“Kementerian Pertanian terus mendorong hilirisasi, sertifikasi, dan pengembangan desa ekspor agar nilai tambah dan manfaat ekonomi benar-benar dirasakan oleh petani,” ujar Mentan Amran.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (plt) Direktur Jenderal Perkebunan Abdul Roni Angkat menegaskan bahwa pendampingan berkelanjutan melalui Program Desa Pertanian Organik telah meningkatkan kualitas, nilai jual, dan akses pasar produk gula aren. “Ke depan, Ditjen Perkebunan akan terus memperluas pembinaan agar semakin banyak pekebun yang naik kelas dan berorientasi ekspor,” kata Roni.
Lebih lanjut terkait dengan gula aren, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) juga terus berupaya meningkatkan kemampuan industri kecil dan menengah (IKM) agar bisa memasarkan produk-produk unggulannya ke kancah global. Oleh karena itu, pelaku IKM perlu mengetahui kebutuhan pasar ekspor dan kualitas produk yang diinginkan oleh buyer.
Salah satu upaya yang dilaksanakan oleh Kemenperin adalah berkolaborasi dengan berbagai pihak terkait. “Kami aktif melakukan sinergi dengan berbagai stakeholders, antara lain yaitu Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) melalui program Sentra IKM Desa Devisa,” kata Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Reni Yanita.
Desa Devisa merupakan program pendampingan yang diinisiasi oleh LPEI/Indonesia Eximbank dengan basis community development, yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat lokal dan mengembangkan komoditas unggulan desa.
“Program tersebut sejalan dengan salah satu program Ditjen IKMA, yaitu peningkatan kemampuan IKM melalui pendekatan sentra. Program ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan IKM untuk melakukan ekspor sesuai dengan persyaratan, spesifikasi, kebutuhan, dan kualitas yang ditetapkan oleh buyer, sehingga dapat meningkatkan penetrasi IKM ke pasar global,” papar Reni.
Salah satu daerah yang telah ditetapkan oleh LPEI sebagai Desa Devisa dan merupakan sentra unggulan dengan produk potensial untuk memasuki pasar ekspor adalah Desa Temon yang terletak di Kabupaten Pacitan dengan produk Gula Aren. Sentra IKM Desa Devisa tersebut memiliki IKM champion, yaitu CV. Agro Temon Lestari.
Reni menjelaskan, pada tahun 2024 Ditjen IKMA bekerjasama dengan LPEI menyelenggarakan berbagai fasilitasi untuk mendukung peningkatan daya saing produk gula aren di Sentra IKM Desa Devisa tersebut. Fasilitasi yang dilakukan, yaitu melalui kegiatan pendampingan teknis produksi dan sistem keamanan pangan, serta fasilitasi mesin/peralatan produksi berupa oven, meja sortasi, meja preparasi stainless steel, mesin kristalisator, wajan alumunium, fasilitasi pendukung lainnya.