Newsletter Subscribe
Enter your email address below and subscribe to our newsletter
Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Nasional – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto mengajak masyarakat menyikapi dinamika global secara bijak dengan meningkatkan kesadaran terhadap penggunaan energi secara efisien. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga ketahanan energi nasional sekaligus memastikan stabilitas pasokan di tengah ketidakpastian global.
Pemerintah mengatakan bahwa pengelolaan energi harus dilakukan secara cermat dan berkelanjutan. Ia menyampaikan bahwa partisipasi masyarakat dalam menghemat energi menjadi bagian penting dari upaya menjaga stabilitas nasional. “Kita harus bijak dalam menggunakan energi. Efisiensi adalah kunci agar ketahanan energi kita tetap terjaga,” ujar Presiden Prabowo.
Presiden Prabowo juga menekankan bahwa pemerintah terus memastikan ketersediaan energi bagi seluruh masyarakat melalui berbagai langkah strategis. Menurutnya, sinergi antara pemerintah dan masyarakat akan memperkuat daya tahan nasional menghadapi gejolak global. “Kolaborasi semua pihak sangat diperlukan agar kita tetap kuat menghadapi tantangan global,” tegas Presiden Prabowo.
Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menjelaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan berbagai kebijakan untuk menjaga pasokan energi tetap stabil. Ia menyebut efisiensi konsumsi energi menjadi salah satu fokus utama selain penguatan produksi dan distribusi. “Kami terus memastikan pasokan energi aman, sekaligus mendorong masyarakat untuk lebih hemat dan efisien dalam penggunaan energi,” kata Bahlil.
Bahlil menambahkan bahwa langkah penghematan energi dapat dimulai dari hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti penggunaan listrik dan bahan bakar secara bijak. Ia menilai kesadaran kolektif masyarakat akan memberikan dampak signifikan terhadap ketahanan energi nasional. “Peran masyarakat sangat penting dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan dan ketersediaan energi,” je;las Bahlil.
Harapannya, dengan penguatan kebijakan pemerintah serta dukungan aktif masyarakat, stabilitas energi nasional diharapkan tetap terjaga di tengah dinamika global. Upaya ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam memastikan keberlanjutan energi sekaligus melindungi kepentingan masyarakat secara luas.
Lebih lanjut, PT Pertamina (Persero) terus mempercepat pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) sebagai bagian dari upaya menuju ketahanan energi nasional.
Komitmen ini diperkuat sebagai solusi energi jangka panjang di tengah geopolitik global, yang berdampak pada volatilitas pasokan serta harga energi dunia.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron mengatakan, pengembangan energi baru terbarukan merupakan langkah strategis Pertamina untuk ketahanan energi nasional, sekaligus mendukung target Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) Pemerintah menuju masa depan yang berkelanjutan.
“Dinamika geopolitik global mempengaruhi stabilitas pasokan dan harga energi fossil. Oleh karena itu, Pertamina terus memperkuat bauran energi melalui pengembangan energi baru terbarukan. Upaya ini tidak hanya meningkatkan independensi energi nasional, tetapi juga menjadi bagian untuk energi yang lebih bersih bagi lingkungan,” ujar Baron.
Hingga akhir tahun 2025, Pertamina menghasilkan energi bersih hingga 8.743 Giga watt per jam (GWh) yang berasal dari berbagai sumber energi rendah karbon. Energi bersih seperti panas bumi (geothermal) ini menjadi sumber energi bagi berbagai pembangkit dengan kapasitas terpasang mencapai 3.271 Mega Watt (MW).
Di antaranya, Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) sebesar 2,4 MW, Gas to Power dari Jawa Satu Power sebesar 1.760 MW, Gas to Power dari Pertamina Power Indonesia sebesar 12,9 MW, solar dari Pertamina Power Indonesia sebesar 55,3 MW, serta energi panas bumi sebesar 772,5 MW.
Selain itu, kepemilikan saham subholding Pertamina New & Renewable Energy pada perusahaan Filipina Citicore Renewable Energy Corporation (CREC) menghasilkan pembangkit listrik tenaga surya sebesar 669,3 MW.
Pengembangan energi bersih tak hanya untuk sektor komersial, Pertamina juga mendorong pemanfaatan energi bersih di tingkat masyarakat.
Hingga kini, Pertamina telah membangun 252 Desa Energi Berdikari (DEB) di seluruh Indonesia, untuk mengembangkan energi transisi. Yakni, panel surya, mikrohidro, biogas dan energi terbarukan lainnya.
“Kami berharap dengan pemanfaatan energi transisi, masyarakat desa tak hanya memiliki ketahanan energi, tapi juga penggerak aktivitas ekonomi,” harap Baron.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 156 lokasi DEB terbukti mampu memproduksi 15,8 ribu ton bahan pangan beras dan 890,4 ton bahan pangan non beras, untuk mendukung ketahanan pangan nasional.
Ke depan, Pertamina berkomitmen untuk memperluas inisiatif berbasis energi bersih dan pemberdayaan masyarakat. Harapannya, Indonesia yang tidak hanya mampu menghadapi gejolak ekonomi dan perubahan iklim, tetapi juga tumbuh menjadi pusat kemandirian energi dan ekonomi baru.