Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Penguatan Ekosistem Emas Nasional dan Pendalaman Pasar Keuangan

Share your love

Ekonomi – Di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global, termasuk akibat ketegangan geopolitik Iran–AS, harga emas meningkat cukup signifikan. Perkembangan harga serta meningkatnya jumlah emas yang dikelola melalui kegiatan usaha bullion mencerminkan semakin tingginya literasi dan kesadaran masyarakat dalam memanfaatkan emas sebagai instrumen investasi dan lindung nilai, yang pada saat yang sama turut memperkuat ketahanan sistem keuangan nasional dalam menghadapi volatilitas sektor eksternal.

“Kegiatan usaha bullion khususnya emas yang telah dirintis perlu dimanfaatkan secara optimal agar dapat memberikan kontribusi nyata dalam mendorong perekonomian nasional,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di Jakarta.

Di sisi lain, perekonomian Indonesia juga terus menunjukkan kinerja yang solid. Pada triwulan IV tahun 2025, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,39 persen (yoy), sehingga secara keseluruhan ekonomi sepanjang 2025 mencapai 5,11 persen, lebih tinggi dibandingkan sebagian besar negara G20. Dengan dukungan stimulus fiskal, termasuk belanja pemerintah yang diperkirakan mencapai Rp809 triliun pada awal 2026 serta berbagai program untuk menjaga daya beli masyarakat, Pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2026 dapat mencapai sekitar 5,5 persen dan secara keseluruhan berada pada kisaran 5,4–5,6 persen sepanjang 2026.

Dalam jangka menengah, penguatan ekosistem bullion diharapkan mendukung transformasi ekonomi menuju target pertumbuhan 8 persen pada 2029 sebagaimana ditetapkan dalam RPJMN 2025–2029. Kehadiran Bank Bullion menjadi bagian penting dari strategi tersebut, khususnya dalam mendorong hilirisasi emas dan menciptakan nilai tambah di dalam negeri. Penguatan ekosistem ini dilakukan melalui integrasi rantai nilai emas nasional, mulai dari peningkatan kapasitas produksi dan refinery di sisi hulu hingga pengembangan jasa keuangan bullion di sisi hilir. Melalui layanan tabungan, pembiayaan, perdagangan, dan penitipan emas, pasokan emas domestik diharapkan dapat dimanfaatkan lebih optimal sekaligus memperdalam pasar emas nasional.

Kinerja Lembaga Jasa Keuangan Bullion, PT Pegadaian menunjukkan perkembangan yang positif, jumlah nasabah meningkat dari 3,2 juta pada Februari 2025 menjadi 5,6 juta pada Februari 2026 pasca peresmian kegiatan usaha bullion. Dalam periode yang sama, tabungan emas masyarakat juga meningkat dari 10,5 ton menjadi 19,25 ton. Secara keseluruhan, per Februari 2026 Pegadaian mencatat kelolaan lini bisnis emas sebesar 147,8 ton termasuk captive gadai 94 ton, dengan total kelolaan kegiatan usaha bullion sebesar 40,59 ton atau sekitar Rp102 triliun.

Perkembangan positif juga terlihat pada Bank Syariah Indonesia. Total kelolaan emas BSI mencakup cicil, gadai, dan tabungan emas sebelum peluncuran Kegiatan Usaha Bullion pada Januari 2025 sebesar 16,85 ton menjadi 22,5 ton pada Februari 2026. Nasabah tabungan emas meningkat signifikan dari 531.329 pada Desember 2025 menjadi 766.742 pada Februari 2026.

Berbagai langkah strategis dilakukan untuk memperkuat ekosistem bullion nasional, antara lain melalui penerbitan kebijakan insentif perpajakan, serta fatwa dari DSN-MUI yang memberikan kepastian bagi pengembangan kegiatan usaha bullion berbasis syariah. Selain itu, penguatan ekosistem bullion juga terus didorong melalui peningkatan koordinasi antar pemangku kepentingan serta penguatan kerja sama dengan berbagai institusi internasional.

“Melalui penguatan ekosistem bullion yang terintegrasi dan berdaya saing global, kita optimalkan potensi emas nasional untuk mendukung stabilitas sistem keuangan dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Genap setahun Bank Bullion hadir, aset kuat, masyarakat tenang,” jelas Airlangga.

Lebih lanjut terkait dengan emas, Direktur Sales and Distribution PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI), Anton Sukarna memastikan ketersediaan stok emas dari supplier berada dalam kondisi memadai, mengantisipasi permintaan ke depan yang diperkirakan terus meningkat.

Untuk itu, BSI akan memastikan kesiapan dari sisi persediaan, serta edukasi nasabah agar investasi emas dilakukan secara bertahap dan berorientasi jangka panjang. “Dalam kondisi apapun, BSI selalu melakukan antisipasi atas ketersediaan stok yang memadai dari para supplier serta pengelolaan inventory management yang baik,” kata Anton.

Share via
Copy link