Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Perbaiki Iklim Investasi Agar Ekonomi Tumbuh Diatas 5%

Share your love

Opini Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M Rizal Taufikurahman mengingatkan perlunya perbaikan serius pada iklim investasi dan produktivitas sektor riil agar pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat melampaui angka 5 persen.

Ia mencatat bahwa persoalan utama ekonomi Indonesia bukan sekadar mencapai angka pertumbuhan tahunan, melainkan menghindari jebakan pertumbuhan datar di kisaran 5 persen. “Tanpa perbaikan serius pada iklim investasi dan produktivitas sektor riil, penguatan di akhir tahun berisiko hanya bersifat sementara dan tidak cukup untuk menopang pertumbuhan ke depan,” kata Rizal, sebagaimana dikutip Antara, kemarin.

Lebih lanjut, Rizal menjelaskan bahwa sepanjang 2025 hingga triwulan III, pola pertumbuhan ekonomi Indonesia pada dasarnya masih berada dalam fase menjaga momentum, bukan memasuki fase akselerasi yang kuat.

Setelah sempat melemah pada awal tahun, laju pertumbuhan kembali ke kisaran 5 persen pada triwulan II dan III. Dan jika dibandingkan dengan capaian 2024, ia mengatakan kinerja itu lebih mencerminkan stabilisasi ekonomi ketimbang perbaikan struktural.

Untuk triwulan IV 2025, menurut Rizal, terdapat ruang pertumbuhan yang sedikit lebih baik dibanding kuartal sebelumnya. Namun, dirinya menilai kenaikan tersebut lebih tepat dibaca sebagai penguatan sementara. “Secara tahunan, pertumbuhan 2025 kemungkinan hanya meningkat tipis dan tetap berada di sekitar 5 persen, sehingga belum cukup kuat untuk disebut sebagai akselerasi ekonomi yang berkelanjutan,” katanya.

Jika ditelusuri dari sumber pertumbuhannya, ia memperkirakan bahwa dorongan pada akhir 2025 masih sangat kental dengan faktor musiman, terutama konsumsi rumah tangga menjelang akhir tahun serta realisasi belanja pemerintah.

“Faktor-faktor ini lazim menopang kinerja jangka pendek, tetapi daya tahannya terbatas. Sementara itu, komponen yang seharusnya menjadi penopang jangka menengah dan panjang menunjukkan sinyal yang belum sepenuhnya meyakinkan,” kata Rizal menjelaskan.

Ia mencatat, kinerja ekspor relatif solid dan membantu menjaga pertumbuhan, namun investasi belum menunjukkan penguatan yang konsisten. Menurut dia, melemahnya pembentukan modal tetap bruto (PMTB) pada paruh kedua 2025 menjadi sinyal bahwa kualitas pertumbuhan masih rapuh dan sangat bergantung pada stimulus temporer.

Dari sisi lapangan usaha, sektor-sektor yang berbasis konsumsi domestik dan mobilitas berpeluang tumbuh lebih tinggi pada triwulan IV, sejalan dengan pola musiman akhir tahun. Sepanjang 2025, beberapa sektor jasa diproyeksikan tetap menunjukkan kinerja positif dan menjadi penyangga pertumbuhan.

Namun, sektor pertanian dinilai berperan lebih sebagai penopang stabilitas harga dan daya beli, bukan sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi secara agregat. Sementara tekanan paling nyata, menurut Rizal, terlihat pada sektor pertambangan, yang kinerjanya tertahan oleh normalisasi harga komoditas global dan faktor produksi.

Selain itu, industri pengolahan juga menghadapi tantangan karena belum kuatnya dorongan investasi dan ketidakpastian permintaan eksternal.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan pertumbuhan ekonomi sepanjang 2025 sedikit di bawah target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). APBN 2025 menetapkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2 persen. Sementara Purbaya memprediksi angka pertumbuhan 2025 berkisar 5,1 persen. “Mendekati 5,2 persen, 5,1 persenlah. Ada kemungkinan (di bawah target APBN),” ujar Purbaya.

Sementara untuk pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2025, Menkeu konsisten mematok angka 5,45 persen. Angka itu lebih tinggi dibandingkan rekor pertumbuhan ekonomi pada kuartal-kuartal sebelumnya. “Kalau saya segitu-gitu aja, 5,45 persen kan, kuartal IV doang,” katanya menambahkan.

Sementara untuk tahun 2026, Purbaya percaya diri pertumbuhan ekonomi bakal bergerak lebih pesat. Strateginya berfokus pada menggerakkan dua mesin pertumbuhan secara bersamaan, yaitu sektor pemerintah dan swasta. Purbaya merujuk pada kinerja perekonomian pada pemerintahan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono yang banyak didorong oleh sektor swasta. Perekonomian relatif tumbuh positif meski pemerintah cenderung bergerak secara pasif.

Sedangkan pada masa kepemimpinan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi), menurut dia, partisipasi sektor swasta relatif lebih landai karena kebijakan moneter saat itu kurang mendukung sektor swasta. Oleh sebab itu, Purbaya berpendapat mengakselerasi pertumbuhan ekonomi perlu menggerakkan kedua mesin secara bersamaan.

Exit mobile version