Newsletter Subscribe
Enter your email address below and subscribe to our newsletter
Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Nasional – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III tahun 2025 sebesar 5,04 persen Year-on-Year (YoY). Angka ini menunjukkan sedikit perlambatan dibandingkan 5,12 persen pada kuartal II 2025, sejalan dengan pola musiman setelah periode aktivitas tinggi pada kuartal sebelumnya.
Perlambatan terutama terjadi pada konsumsi rumah tangga yang tumbuh 4,89 persen yoy, sedikit lebih rendah dari 4,97 persen pada kuartal sebelumnya. Penurunan ini disebabkan faktor musiman setelah lonjakan belanja masyarakat pada periode lebaran pada kuartal II. Sementara itu, belanja pemerintah justru melonjak menjadi 5,49 persen YoY dari hanya 0,30 persen, seiring meningkatnya realisasi anggaran dan langkah-langkah stimulus fiskal.
Dari sisi investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB), pertumbuhan melambat menjadi 5,04 persen YoY setelah sebelumnya mencatat 6,99 persen. Sebaliknya, ekspor tumbuh kuat hingga 9,91 persen YoY, sementara impor anjlok tajam menjadi hanya 1,18 persen, sehingga kontribusi ekspor neto terhadap PDB meningkat signifikan.
Secara sektoral, jasa pendidikan mencatat pertumbuhan tertinggi, dipicu pembayaran uang kuliah pada periode tersebut. Namun, sektor ini diperkirakan akan kembali normal pada kuartal berikutnya. Sektor manufaktur, penyumbang terbesar PDB, juga melambat menjadi 5,5 persen YoY dari 5,7 persen, meskipun subsektor makanan dan minuman justru meningkat menjadi 6,5 persen, didorong kenaikan produksi CPO.
Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro menilai perlambatan konsumsi rumah tangga menunjukkan pola pengeluaran masyarakat yang lebih hati-hati. “Pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada kuartal III 2025 hanya 4,89 persen, di bawah rata-rata historis kuartal non-festif sekitar 4,94 persen. Ini menandakan daya beli belum sepenuhnya pulih,” ujarnya.
Indikator Mandiri Spending Index (MSI) menunjukkan bahwa pola konsumsi di kuartal III tahun 2025 masih lemah, terutama akibat penurunan tabungan di tengah penciptaan lapangan kerja formal yang masih terbatas. Namun, MSI pada kuartal IV tahun 2025 menunjukkan perbaikan seiring meningkatnya kepercayaan dan dukungan kebijakan pemerintah.
Dia menambahkan, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) telah memberikan dukungan kebijakan yang signifikan untuk menjaga momentum ekonomi. Kombinasi kebijakan fiskal dan moneter diharapkan mampu memperkuat daya beli serta mendorong kembali aktivitas bisnis.
“Meskipun dampak penuhnya kemungkinan baru akan terasa pada kuartal IV, ketika realisasi fiskal meningkat dan pelonggaran moneter mulai tersalurkan ke perekonomian,” lanjutnya.
Namun, Andry mengingatkan, risiko global masih membayangi, terutama akibat ketidakpastian ekonomi dunia dan kebijakan tarif Amerika Serikat. Dengan dorongan stimulus dan proyek pemerintah, pertumbuhan ekonomi nasional diperkirakan ekonomi akan tumbuh sekitar 5,0 persen sepanjang tahun 2025.
JawaPos