Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Stok Beras Nasional Kuat, Fondasi Menuju Swasembada dan Ekspor

Share your love

Nasional – Penguatan stok beras nasional dalam beberapa bulan terakhir menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan swasembada pangan dan kesiapan ekspor. Pemerintah memastikan surplus yang terjaga akan terus diperkuat agar Indonesia tidak hanya mandiri, tetapi juga mampu memasok kebutuhan beras ke sejumlah negara.

Penegasan tersebut disampaikan Menteri Pertanian (Mentan Amran) Andi Amran Sulaiman saat memimpin Rapat Koordinasi Nasional (Rakor) Pertanian bersama Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, jajaran Eselon I dan II, serta Kepala Dinas Pertanian Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Indonesia di Jakarta.

Pengadaan beras pada Januari tercatat meningkat hingga 78 persen dibanding periode sebelumnya. Saat ini stok beras nasional mencapai sekitar 3,5 juta ton dan diproyeksikan terus meningkat seiring panen raya serta tren produksi yang naik sekitar 15 persen hingga Maret.

“Kalau tren ini bertahan tiga bulan saja ke depan, hampir pasti stok kita tembus 6 juta ton. Ini belum pernah terjadi selama kita merdeka,” ujarAmran.

Jika tren produksi konsisten hingga akhir tahun, potensi surplus diperkirakan bisa mencapai sekitar 9 juta ton.

“Ini puncak prestasi Bapak Ibu semua. Tetapi jangan lengah. Swasembada ini harus kita pertahankan dan tingkatkan,” kata Amran.

Sehingga dengan proyeksi stok yang kuat, pemerintah mulai menjajaki ekspor beras ke sejumlah negara sahabat, antara lain Filipina, Malaysia, Arab Saudi, dan Papua Nugini.

“Kalau tiga bulan ke depan tidak ada aral melintang, kita siap ekspor. Bahkan kita dorong dari wilayah timur langsung ke Papua Nugini,” ungkap Amran.

Amran mengungkapkan bahwa Presiden telah menyampaikan langsung di forum internasional bahwa Indonesia berhasil menekan impor dan memperkuat swasembada pangan.

Amran menegaskan bahwa keberlanjutan swasembada tidak hanya bergantung pada produksi jangka pendek, tetapi pada penguatan fondasi struktural melalui program cetak sawah dan optimalisasi lahan (oplah).

Tahun lalu realisasi cetak sawah mencapai sekitar 200 ribu hektare dan tahun ini ditargetkan meningkat menjadi 250 ribu hektare. Program oplah juga telah berjalan ratusan ribu hektare dalam dua hingga tiga tahun terakhir sebagai penguat kapasitas produksi nasional.

“Ini yang membuat swasembada kita sustain. Minimal bertahan 5 sampai 7 tahun, bahkan bisa 10 tahun kalau berlanjut,” tegas Amran.

Saat ini terdapat sembilan komoditas yang telah mencapai swasembada. Namun dua komoditas masih menjadi perhatian serius Presiden, yakni kedelai dan bawang putih.

“Kedelai dan bawang putih ini fokus kita berikutnya. Kedelai memang agak berat, bawang putih relatif lebih memungkinkan. Kita selesaikan satu per satu,” tegas Amran.

Selain itu, swasembada gula konsumsi juga ditargetkan tercapai tahun ini, sementara gula industri diharapkan menyusul dalam tiga hingga empat tahun ke depan.

Dalam arahannya, Amran juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran pertanian daerah yang disebutnya sebagai “pahlawan pangan” atas capaian swasembada dan lonjakan produksi nasional.

“Saya ucapkan terima kasih yang tak terhingga. Bapak Ibu adalah pahlawan pangan yang membuat nama baik bangsa Indonesia terangkat di tingkat nasional dan global,” tegas Amran.

Amran menutup Rakor dengan penegasan agar seluruh jajaran pusat dan daerah menjaga momentum peningkatan produksi, mempercepat realisasi program, serta memastikan pengawasan berjalan efektif demi mempertahankan surplus dan target ekspor.

“Kita putuskan hari ini. Saya mau cek satu-satu. Ini rapat sangat penting,” katanya Amran.

Lebih lanjut, memasuki awal tahun 2026, realisasi serapan Cadang Beras Pemerintah (CBP) yang bersumber dari produksi dalam negeri menunjukkan lonjakan signifikan. Serapan setara beras tercatat mencapai sekitar 112 ribu ton, meningkat lebih dari 700 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya berada di kisaran 14 ribu ton.

Sementara itu, Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menegaskan komitmen perusahaan untuk memaksimalkan penyerapan hasil produksi petani nasional sebagai wujud kehadiran negara.

“Sesuai dengan mandat dalam Rakortas yang menetapkan target pengadaan sebesar 4 juta ton setara beras yang berasal dari gabah kering panen dengan catatan any quality yang memasuki usia panen, sebagai wujud komitmen tersebut, per tanggal 2 Februari 2026, realisasi pengadaan dalam negeri mencapai 112.032 ton setara beras,” urai Rizal.

Share via
Copy link