Newsletter Subscribe
Enter your email address below and subscribe to our newsletter
Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Oleh: Muhammad Rodhi Mu’amari
Internasional – Belakangan ini, ada kabar yang menarik (dan sedikit mencemaskan) dari Afrika. Ethiopia, negara yang baru saja bergabung dengan blok BRICS pada Januari 2024, sedang melakukan negosiasi yang cukup radikal dengan China: mengubah sebagian besar utang mereka yang denominasinya Dolar AS menjadi Yuan China.
Bukan hanya angka utang yang fantastis—sekitar $5,38 miliar (sekitar Rp 88,77 triliun) kepada Beijing—tetapi juga makna di baliknya. Ini bukan sekadar urusan restrukturisasi utang biasa; ini adalah manuver ekonomi yang mengirimkan sinyal kuat kepada dunia, terutama kepada si “Raja” mata uang, Dolar AS.
Jawabannya sederhana: Krisis Devisa.
Ethiopia, seperti banyak negara berkembang lainnya, dihantam bertubi-tubi oleh pandemi, kenaikan harga komoditas global, dan yang paling parah, perang saudara berkepanjangan di wilayah Tigray. Akibatnya, kas negara Ethiopia kekurangan ‘uang kas’ mata uang asing (Dolar AS) yang sangat dibutuhkan untuk membayar utang dan mengimpor barang.
Ketika utang mereka masih dalam Dolar, mereka harus terus-menerus memburu Dolar di pasar global, yang makin sulit dan mahal. Gubernur Bank Nasional Ethiopia, Eyob Tekalign, mengatakan langkah ke Yuan ini adalah hal yang “sangat masuk akal.”
Dengan konversi utang, Ethiopia berharap tekanan likuiditas Dolar mereda. Lebih jauh, ini bisa membuka pintu untuk menggunakan Yuan secara langsung dalam perdagangan bilateral dengan China, mengurangi ketergantungan total pada mata uang AS.
Negosiasi Ethiopia ini adalah berita besar karena ia menjadi uji coba nyata atas gerakan dedolarisasi yang gencar disuarakan oleh BRICS.
BRICS (Brazil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, dan anggota baru seperti Ethiopia serta Indonesia) selama ini mendorong penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan. Mereka ingin menciptakan tatanan ekonomi yang lebih seimbang, tidak mudah diintervensi oleh kebijakan moneter Amerika Serikat (AS), seperti ancaman sanksi atau kenaikan suku bunga The Fed.
Kasus Ethiopia menunjukkan:
Keberhasilan Ethiopia ini akan menjadi propaganda soft power yang kuat: BRICS tidak hanya bicara, tetapi memberikan solusi praktis untuk krisis utang dan kedaulatan moneter negara berkembang.
Meskipun terdengar seperti pembebasan dari dominasi Dolar, langkah ini bukan tanpa risiko. Ini memunculkan pertanyaan penting: Apakah negara berkembang hanya berpindah dari satu hegemoni (Dolar) ke hegemoni lainnya (Yuan)?
Utang dalam Yuan berarti Ethiopia—dan mungkin negara berkembang lain yang meniru—kini harus menerima persyaratan baru, risiko nilai tukar Yuan, dan segala konsekuensi politik yang mungkin disyaratkan oleh Beijing.
Sementara Dolar didukung oleh transparansi pasar dan sistem hukum Barat, Yuan masih dikendalikan ketat oleh People’s Bank of China. Diversifikasi adalah bagus, tetapi terlalu bergantung pada Yuan juga menciptakan kerentanan baru.
Sebagai sesama anggota baru BRICS, Indonesia tentu perlu mencermati taktik Ethiopia ini.
Meskipun ekonomi Indonesia relatif lebih stabil dan utang luar negeri kita lebih terdiversifikasi, Indonesia juga secara aktif mendorong penggunaan Mata Uang Lokal (LCS) dalam perdagangan dengan beberapa negara mitra. Tujuannya sama: mengurangi ketergantungan pada Dolar.
Jika dedolarisasi BRICS semakin masif dan sukses (didukung oleh langkah berani seperti Ethiopia), tekanan terhadap Dolar akan meningkat. Bagi Indonesia, ini bisa menjadi peluang untuk memperkuat Rupiah dalam perdagangan regional dan negosiasi utang.
Namun, kita harus strategis. Apakah Indonesia akan berani meniru Kenya dan Nigeria dalam urusan utang/perdagangan dengan Yuan? Atau memilih jalan yang lebih hati-hati, berfokus pada penguatan Rupiah di regional ASEAN?
Manuver Ethiopia membuktikan: perlawanan terhadap Dolar itu nyata. Kini, tinggal menunggu siapa lagi yang berani mencoba, dan apakah solusi Yuan ini benar-benar jalan keluar yang sehat, atau hanya menukar tuan dari Dolar ke Big Brother Yuan.