Newsletter Subscribe
Enter your email address below and subscribe to our newsletter
Enter your email address below and subscribe to our newsletter

UMKM – Maman Abdurrahman, Menteri Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) menyampaikan bahwa aktivitas penjualan dari pelaku UMKM di wilayah Sumatera Utara (Sumut) dan Sumatera Barat (Sumbar) secara umum sudah relatif mulai normal.
Hal ini terlihat dari tingginya transaksi daring melalui kanal khusus e-commerce yang difasilitasi pemerintah.
“Kementerian UMKM bersama mitra telah menginisiasi pembentukan laman khusus di platform e-commerce untuk memasarkan produk UMKM dari Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat guna mendorong pergerakan ekonomi daerah,” ungkap Maman, mengutip laman Antara.
Sejak 22 Januari hingga 11 Februari tahun ini, tercatat sekitar 3,5 juta transaksi terjadi melalui laman tersebut, melibatkan sekitar 2.059 UMKM dengan total 2.128 produk.
Dari jumlah itu kata dia, Sumatera Barat mencatat sekitar 2 juta transaksi dan Sumatera Utara sekitar 1,3 juta transaksi. Kedua capaian ini menunjukkan kondisi ekonomi di wilayah tersebut sudah relatif normal. Sementara Aceh mencatat sekitar 16.000 transaksi.
“Dari aktivitas transaksi di tiga provinsi ini menunjukkan bahwa untuk kondisi di Sumatera Barat dan Sumatera Utara sesuai tadi yang sudah disampaikan oleh Pak Mendagri memang sudah relatif normal, namun memang untuk Aceh masih perlu ekstra effort,” kata Maman.
Maman menilai wilayah Aceh masih memerlukan perhatian ekstra karena aktivitas operasional baru sekitar 66 persen dapat berjalan, sehingga berdampak pada jumlah transaksi.
Meski demikian, dia menyebut jumlah produk dari Aceh cukup tinggi, yang menunjukkan produktivitas dan partisipasi pelaku UMKM tetap meningkat. Produk yang dipasarkan antara lain pakaian, makanan, kerajinan tangan, serta berbagai perlengkapan mandi dan kebutuhan lainnya.
Kementerian UMKM berkolaborasi dengan sejumlah platform e-commerce menghadirkan layanan belanja online khusus bertajuk “UMKM Sumatera Bangkit”, yang menampilkan produk-produk UMKM asal Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Adapun kolaborasi tersebut diwujudkan melalui fitur landing page atau halaman khusus UMKM Sumatera Bangkit yang tersedia di Shopee, Tokopedia, TikTok Shop, dan Lazada.
Lebih lanjut untuk mendorong sektor UMKM Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengeluarkan Program Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Berani Inovasi, Siap Adaptasi Ekspor (UMKM BISA Ekspor) telah berhasil mengajak UMKM untuk menjadi eksportir. Sepanjang 2025, program yang dijalankan Kementerian Perdagangan (Kemendag) ini telah memfasilitasi 1.217 pelaku UMKM dari berbagai sektor usaha. Total transaksi mencapai USD134,87 juta.
Menteri Perdagangan Budi Santoso memaparkan, “Kemendag membuka akses langsung UMKM ke pasar global melalui penjajakan bisnis (business matching). Sepanjang 2025, sebanyak 1.217 UMKM telah terfasilitasi dengan total transaksi yang dihasilkan sebesar USD 134,87 juta. Capaian ini membuktikan UMKM Indonesia punya kesempatan bersaing untuk diterima di pasar internasional.”
Total transaksi USD134,87 juta terdiri atas purchase order sebesar USD57,45 dan potensi transaksi USD77,42. Terlaksana 622 kegiatan business matching yang terdiri atas 399 sesi pitching (presentasi UMKM ke perwakilan perdagangan RI di luar negeri) dan 223 pertemuan dengan buyer mancanegara. Mayoritas pertemuan terlaksana secara virtual melalui aplikasi konferensi daring.
Budi memaparkan, pitching dan business matching sepanjang 2025 paling banyak melibatkan mitra dari Uni Emirat Arab, disusul Hungaria, Hong Kong, Malaysia, dan Korea Selatan. Produk makanan dan minuman mendominasi pitching dan business matching dengan persentase sebesar 29,99 persen, diikuti produk perkebunan (14,91 persen), furnitur dan dekorasi rumah (10,94 persen), tekstil dan produk tekstil atau fesyen (10,94 persen), serta produk perikanan (5,63 persen).
Sementara itu, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Fajarini Puntodewi menyampaikan, Program UMKM BISA Ekspor akan terus diperkuat. Salah satu caranya, yaitu melibatkan aktif kedutaan besar RI dan konsulat jenderal RI di berbagai negara tujuan ekspor. Langkah tersebut untuk meningkatkan fasilitasi business matching sekaligus pendampingan UMKM yang lebih intensif dan berkelanjutan.
“Kemendag berkomitmen mengantarkan produk Indonesia ke pasar internasional. Kami akan menindaklanjuti berbagai masukan konstruktif untuk memastikan program ini berjalan semakin efektif dan berdampak nyata bagi peningkatan ekspor nasional,” kata Puntodewi.