Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Kerugian Ekonomi Akibat Perubahan Iklim Mengancam Pertumbuhan Nasional

Share your love

Ekonomi – Dampak perubahan iklim tidak lagi sekadar persoalan lingkungan, melainkan telah berkembang menjadi ancaman serius bagi perekonomian global maupun nasional. Meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem, banjir, kekeringan, gelombang panas, hingga kenaikan muka air laut menimbulkan kerugian ekonomi yang semakin besar dan berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang.

Di Indonesia, pemerintah memperkirakan kerugian ekonomi akibat perubahan iklim dapat mencapai Rp2.005 triliun pada 2029 apabila tidak disertai langkah mitigasi dan adaptasi yang memadai. Angka tersebut melonjak lebih dari empat kali lipat dibandingkan estimasi kerugian pada 2025 yang berada di kisaran Rp469 triliun. Kerugian tersebut berasal dari berbagai sektor strategis seperti pertanian, sumber daya air, kesehatan, infrastruktur, hingga kawasan pesisir yang rentan terhadap dampak perubahan iklim.

Sektor pangan menjadi salah satu yang paling terdampak. Perubahan pola curah hujan, peningkatan suhu, dan meningkatnya risiko kekeringan diperkirakan menurunkan produktivitas pertanian secara signifikan. Dalam jangka panjang, produktivitas padi dan jagung berpotensi terus mengalami penurunan, sementara jutaan hektare lahan pertanian menghadapi ancaman degradasi akibat perubahan iklim. Kondisi ini berisiko memicu kenaikan harga pangan sekaligus mengganggu ketahanan pangan nasional.

Selain sektor pertanian, ketersediaan air juga menghadapi tekanan yang semakin besar. Berkurangnya pasokan air bersih akibat perubahan pola musim dan meningkatnya kejadian kekeringan berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi, industri, serta kebutuhan rumah tangga. Di sejumlah wilayah, ancaman ini diperkirakan akan semakin terasa seiring meningkatnya kebutuhan air dan bertambahnya jumlah penduduk.

Dampak ekonomi juga muncul melalui sektor kesehatan. Meningkatnya penyebaran penyakit yang sensitif terhadap iklim, seperti demam berdarah dan malaria, berpotensi menurunkan produktivitas tenaga kerja dan meningkatkan beban biaya kesehatan masyarakat. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat mengurangi daya saing ekonomi dan memperbesar tekanan terhadap anggaran negara.

Secara global, berbagai laporan menunjukkan bahwa kerugian ekonomi akibat bencana dan cuaca ekstrem telah mencapai ratusan miliar dolar Amerika Serikat setiap tahun. Risiko tersebut diperkirakan terus meningkat seiring naiknya suhu bumi dan semakin seringnya kejadian cuaca ekstrem. Bahkan, dampak kesehatan yang terkait perubahan iklim diproyeksikan dapat menyebabkan hilangnya produktivitas ekonomi dunia hingga lebih dari US$1,5 triliun dalam beberapa dekade mendatang.

Para ekonom menilai bahwa investasi pada adaptasi dan mitigasi perubahan iklim kini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak. Penguatan infrastruktur tahan iklim, transisi menuju energi bersih, perlindungan kawasan hutan, serta pengembangan sistem peringatan dini bencana dinilai dapat mengurangi risiko kerugian ekonomi yang lebih besar di masa depan.

Dengan posisi Indonesia sebagai negara kepulauan yang memiliki garis pantai panjang dan tingkat kerentanan bencana yang tinggi, upaya menghadapi perubahan iklim menjadi bagian penting dari strategi pembangunan nasional. Tanpa langkah yang terukur dan berkelanjutan, perubahan iklim berpotensi menjadi salah satu faktor utama yang menghambat pencapaian target pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat dalam beberapa dekade mendatang.

Share via
Copy link