Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Ekonom pangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Singapura jadi 3,5%

Share your love

Internasional – Para ekonom sektor swasta memperkirakan ekonomi Singapura akan tumbuh 3,5% pada 2026, sedikit lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 3,6%.

Seperti dikutip TheSttraitsTimes, revisi tersebut dipicu oleh perlambatan konsumsi rumah tangga, yaitu pengeluaran masyarakat untuk barang dan jasa.

Survei triwulanan terbaru terhadap para peramal ekonomi profesional yang dilakukan oleh Monetary Authority of Singapore (MAS) dikirim pada 25 Mei, jauh sebelum Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan gencatan senjata selama 60 hari pada 14 Juni yang diperkirakan akan menormalkan kembali arus minyak dan gas alam dari Timur Tengah.

Setelah tercapainya kesepakatan tersebut dan meningkatnya harapan bahwa pengiriman energi melalui Strait of Hormuz akan terus bertambah dalam beberapa pekan mendatang, harga minyak mentah dan gas alam turun tajam dan diperkirakan masih akan melemah lebih lanjut.

Sebelum tercapainya kesepakatan AS-Iran, para responden survei mengkhawatirkan eskalasi konflik di Timur Tengah yang dapat mendorong inflasi Singapura lebih tinggi.

Kekhawatiran itu kemungkinan membuat mereka memperkirakan rumah tangga akan mengurangi belanja.

Meski diturunkan dari 3,6% pada survei Maret menjadi 3,5%, proyeksi tersebut masih berada di batas atas kisaran pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Singapura yang diperkirakan pemerintah, yakni 2% hingga 4%.

Ekonomi Singapura tumbuh 6% secara tahunan pada kuartal I-2026, sedikit lebih tinggi dari proyeksi median 5,8% dalam survei sebelumnya.

Untuk kuartal II-2026, para ekonom memperkirakan pertumbuhan ekonomi mencapai 4,3%.

Untuk prospek sisa tahun 2026, seluruh responden sepakat bahwa berlanjutnya siklus pertumbuhan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) dapat menjadi faktor pendorong ekonomi.

Meskipun proyeksi pertumbuhan konsumsi rumah tangga diturunkan menjadi 3,2% dari sebelumnya 3,5%, dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan tertahan oleh prospek yang lebih kuat di hampir seluruh sektor ekonomi lainnya.

Pertumbuhan sektor manufaktur diperkirakan mencapai 5%, naik dari estimasi sebelumnya 4,3%.

Sektor keuangan dan asuransi diperkirakan tumbuh 4,5%, meningkat dari proyeksi 3,6%.

Sektor konstruksi diperkirakan tumbuh 6,5%, naik dari 5%, sementara perdagangan grosir dan ritel diproyeksikan tumbuh 4,9%, lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya 4%.

Sektor akomodasi dan jasa makanan juga diperkirakan berkembang 1,8%, meningkat dari prediksi 1,3% pada survei Maret.

Untuk 2027, proyeksi pertumbuhan ekonomi tetap tidak berubah di level 2,5%.

Sementara itu, proyeksi inflasi keseluruhan pada 2026 naik menjadi 2,3% dari sebelumnya 1,5%.

Proyeksi inflasi inti, yang tidak memasukkan biaya transportasi pribadi dan perumahan, juga meningkat menjadi 2% dari 1,5%.

Di pasar tenaga kerja, para responden memperkirakan tingkat pengangguran keseluruhan, termasuk pekerja non-residen, akan tetap berada di level 2,1% pada akhir 2026.

Terkait kebijakan moneter, sebanyak 38% responden memperkirakan MAS akan kembali memperketat kebijakan guna memperkuat nilai tukar dolar Singapura berbasis perdagangan.

Bank sentral Singapura dijadwalkan mengumumkan tinjauan kebijakan moneter berikutnya pada Juli mendatang.

Idnfinancials

Share via
Copy link