Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Hilirisasi Kakao Dimulai dari Penguatan Sektor Hulu

Share your love

Komoditas – Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong penguatan hilirisasi perkebunan sebagai langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah, daya saing, serta kesejahteraan pekebun. Upaya ini dilakukan agar komoditas perkebunan, khususnya kakao, tidak hanya berhenti pada produksi bahan baku, tetapi juga mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar melalui penguatan rantai nilai dari hulu ke hilir.

Salah satu langkah konkret diwujudkan melalui program produksi dan penyediaan benih kakao unggul oleh produsen benih terpilih. Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Duampanua, Kecamatan Anreapi, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, dengan melibatkan pekebun, kelompok tani, serta masyarakat setempat.

Di wilayah Polewali Mandar, program ini mencakup kegiatan produksi benih kakao pada lahan seluas 5.250 hektare, dengan target produksi mencapai 5.250.000 benih kakao unggul. Benih tersebut selanjutnya akan disalurkan kepada petani penerima manfaat di Polewali Mandar guna meningkatkan produktivitas, kualitas hasil, serta daya saing kakao nasional.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa keberhasilan hilirisasi harus dimulai dari penguatan sektor hulu, terutama melalui penyediaan benih unggul yang berkualitas dan berkelanjutan.

“Hilirisasi perkebunan merupakan kunci untuk meningkatkan nilai tambah, daya saing, dan kesejahteraan pekebun. Benih unggul menjadi fondasi utama agar produktivitas meningkat dan hasil perkebunan mampu bersaing di pasar nasional maupun global,” ujar Amran.

Selain penyediaan benih, program ini juga diarahkan untuk mendorong keterlibatan generasi muda dalam pengembangan perkebunan modern berbasis inovasi dan teknologi. Regenerasi pekebun menjadi salah satu fokus utama untuk memastikan keberlanjutan sektor perkebunan sekaligus mendorong lahirnya pelaku usaha kakao yang adaptif terhadap perkembangan pasar dan teknologi.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Abdul Roni Angkat, menyampaikan bahwa percepatan penyediaan benih unggul merupakan bentuk komitmen Ditjen Perkebunan dalam memperkuat fondasi pembangunan perkebunan nasional.

“Penyediaan benih unggul yang tepat mutu dan tepat waktu menjadi langkah strategis untuk meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan pekebun,” kata Roni.

Lebih lanjut terkait dengan kakao, Kementerian Perdagangan (Kemendag) juga mendorong pelaku usaha komoditas kakao untuk meningkatkan hilirisasi produknya agar makin bernilai tambah. Kemendag meyakini bahwa hilirisasi bisa menjadi jalan meningkatkan minat pasar global terhadap produk kakao Indonesia.

Selain itu hilirisasi merupakan amanat Presiden Prabowo Subianto. Sehingga dalam hal ini upaya hilirisasi produk kakao juga dapat mempertahankan nilai jual yang ideal bagi produk kakao Indonesia, yang akhirnya berdampak positif pada kesejahteraan petani kakao.

Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri mengungkapkan Indonesia sudah mengekspor kakao dalam bentuk yang berbeda-beda, ada yang diekspor dalam bentuk biji dan ada yang sudah melalui proses hilirisasi.

“Yang kita lihat di sini, kakao telah mengalami pemrosesan menjadi cokelat yang kemudian dikemas dengan bagussehingga berdaya saing. Perlu digarisbawahi bahwa sebetulnya hiliriasi tidak harus di industri skala besar, tapi juga bisa di lingkup usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Inilah yang pemerintah akan dorong dan fasilitasi,” ujar Roro.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor kakao, kakao olahan, dan makanan olahan berbahan dasar kakao Indonesia mencatatkan tren positif 16,20 persen pada 2021—2024.

Adapun pada Januari—September 2025, ekspornya tercatat sebesar USD2,8 miliar atau melonjak 68,75 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024 yang senilai USD1,6 miliar.

Lebih lanjut, Kemedag juga mendukung produsen coklat untuk melebarkan sayap ke pasar mancanegara dengan cara ekspor. Seperti dikettahui, kualitas coklat Indonesia mampu bersaing secara global. Untuk itu Kemendag mendorong ekspor produsen coklat lokal melalui program prioritas, yaitu Program Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Berani Inovasi, Siap Adaptasi Ekspor (UMKM BISA Ekspor).

Menteri Perdagangan, Budi Santoso mengungkapkan, “kami melihat besarnya kapasitas produksi coklat dan potensi wisata di Kampung Coklat salahsatunya di Blitar. Coklat diambil dari petani di Blitar dan sekitar Jawa Timur, kemudian hasil produksinya dipasarkan di dalam negeri. Dengan rekam jejak ini, kami mendorong produsen coklat untuk menggiatkan pasar ekspor.”

Selain kapasitas produksi yang mumpuni, Budi juga mengapresiasi dukungan Kampung Coklat bagi UMKM di sekitar daerah operasinya. Kampung Coklat turut menyokong UMKM di sekitar kawasan melalui konsep desa wisata dan edukasi coklat bagi anak-anak.

Budi mengatakan, ada sejumlah peluang yang terbuka jika para produsen coklat lokal ikut memanfaatkan UMKM BISA Ekspor. Selain membuka pasar ekspor bagi coklat lokal, UMKM BISA Ekspor juga dapat mengoptimalkan upaya hilirisasi coklat. Sehingga, Indonesia dapat meningkatkan ekspor produk coklat jadi alih-alih ekspor bahan baku.

Exit mobile version