Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Kendali Inflasi dan Ekonomi Indonesia yang Solid

Share your love

Nasional – Upaya pemerintah dalam menjaga inflasi tetap rendah menjadi sorotan dalam Beritasatu Regional Forum 2025. Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Tomsi Tohir, menegaskan mengendalikan inflasi di Indonesia tidak sesederhana negara lain.

Dengan populasi besar, kondisi geografis luas, serta karakter ekonomi yang beragam, menurut Tomsi, setiap kebijakan harus dirancang dengan sangat hati-hati. “Pengendalian inflasi di Indonesia merupakan tantangan tersendiri karena kita memiliki jumlah penduduk yang besar dan wilayah yang luas,” ujarnya dalam forum tersebut, Rabu (10/12/2025).

Inflasi vs Tantangan
Meski menghadapi dinamika kompleks, Indonesia berhasil mempertahankan inflasi nasional pada level rendah dan stabil. Selama tiga bulan terakhir, inflasi tercatat 2,65% pada September 2025, 2,86% pada Oktober 2025, dan 2,72% pada November 2025.

Dengan capaian itu, Indonesia berada pada peringkat ke-86 dari 186 negara di dunia, dan menempati posisi ke-12 dari 24 anggota G-20. Di kawasan ASEAN, Indonesia berada pada peringkat keempat, sebuah pencapaian yang menunjukkan efektivitas langkah pengendalian harga.

Tomsi menekankan tantangan terbesar justru muncul pada sektor kebutuhan pokok, khususnya bahan pangan strategis, seperti beras. Pemerintah harus mengatur harga dengan sangat presisi, agar tidak merugikan petani dan sekaligus tidak membebani masyarakat.

“Kita tidak boleh membeli beras dengan harga terlalu murah sehingga petani merugi. Namun, tidak boleh juga terlalu mahal karena akan membuat masyarakat kesulitan,” tegasnya.

Menurut Tomsi, keseimbangan antara kepentingan produsen dan konsumen adalah kunci penting dalam menjaga stabilitas harga di negara besar seperti Indonesia.

Solid di Tengah Tekanan Global
Kemendagri juga menegaskan perekonomian nasional berada dalam kondisi stabil. Dibandingkan negara maju dan sejumlah negara tetangga, posisi Indonesia dinilai lebih kuat. Hal ini terlihat dari indikator makro, seperti pertumbuhan ekonomi dan inflasi dalam beberapa bulan terakhir.

Secara global, Indonesia berada pada peringkat 45 dari 185 negara dalam capaian pertumbuhan ekonomi. Ini menandakan pemulihan ekonomi tetap terjaga meski dunia tengah menghadapi tekanan ekonomi dan geopolitik.

Inflasi yang stabil di bawah 3% secara year on year (yoy) juga menjadi bukti kuat keberhasilan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter. “Inflasi kita masih terkendali dengan baik,” kata Tomsi mengomentari posisi Indonesia yang berada pada peringkat 86 secara global terkait tingkat inflasi.

Ia menambahkan perbandingan dengan negara kecil tidaklah relevan. “Berkaitan dengan inflasi, tentu tidak bisa disamakan dengan negara yang kecil-kecil. Kita ini negara terbesar keempat secara jumlah penduduk, dengan bentang wilayah dari Sabang sampai Merauke. Itu tantangan tersendiri,‎” jelasnya.

Ekspor Meningkat, Nonmigas Motor Utama
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada November 2025 berada pada angka 0,17% month to month (mtm). Indeks harga konsumen (IHK) naik dari 109,04 pada Oktober 2025 menjadi 109,22.

Secara tahunan, inflasi berada pada 2,72% yoy, sedangkan inflasi tahun kalender berada pada 2,27% year to date (ytd).

Selain inflasi, kinerja ekspor Indonesia juga menunjukkan perkembangan positif. Sepanjang Januari-Oktober 2025, nilai ekspor Indonesia mencapai US$ 234,04 miliar, tumbuh 6,96% dibanding periode tahun lalu. Kontribusi paling besar berasal dari ekspor nonmigas yang menembus US$ 223,12 miliar, naik 8,42% yoy.

Komoditas yang menjadi penopang pertumbuhan ekspor antara lain, minyak kelapa sawit, logam dasar bukan besi, perhiasan dan barang berharga, kimia dasar organik, hasil pertanian, dan semikonduktor serta komponen elektronik.

Dari sisi negara tujuan, pasar terbesar masih didominasi mitra utama, yaitu China (US$ 52,45 miliar), Amerika Serikat (US$ 25,56 miliar), dan India (US$ 15,32 miliar).

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan kenaikan ekspor terutama ditopang performa sektor industri pengolahan dan hasil pertanian. Menurutnya, kondisi ini menunjukkan daya saing Indonesia tetap kuat di tengah pelemahan ekonomi global.

Ekonomi Kuartal III Tetap Kuat
Pada kuartal III 2025, BPS melaporkan perekonomian Indonesia tumbuh 5,04% yoy, sedikit melambat dari kuartal sebelumnya (5,12%), tetapi tetap solid di tengah ketidakpastian global.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh Edy Mahmud, menegaskan keberhasilan menjaga stabilitas inflasi, kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI Rate) pada level 4,75%, dan efektivitas belanja negara menjadi pendorong utama pertumbuhan.

“Kebijakan ekonomi juga menopang kinerja perekonomian, seperti pengendalian inflasi, BI Rate 4,75%, serta kebijakan fiskal dalam mendorong efektivitas belanja,” jelasnya.

Konsumsi rumah tangga, yang menyumbang porsi terbesar PDB, tetap kuat. Sektor jasa makanan, minuman, dan akomodasi tumbuh 5,76% yoy, sedangkan kategori barang dan jasa lainnya naik 7,49% yoy.

Secara triwulanan, ekonomi tumbuh 1,43% quarter to quarter, dan secara nominal PDB atas dasar harga berlaku mencapai Rp 6.060 triliun.

Edy menambahkan investasi juga menunjukkan perbaikan signifikan. Realisasi penanaman modal asing (PMA) dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) tercatat tumbuh 13,89% yoy, menandai meningkatnya kepercayaan pelaku usaha terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Ia juga menyebut walaupun beberapa mitra dagang, seperti China dan Singapura mengalami perlambatan, Indonesia tetap mampu menjaga momentum pertumbuhan. “Ekonomi beberapa mitra dagang Indonesia tetap tumbuh,” katanya.

Kombinasi antara stabilitas inflasi, peningkatan ekspor, serta pertumbuhan ekonomi yang terjaga menunjukkan fondasi ekonomi Indonesia tetap solid. Meskipun menghadapi tantangan geografis dan demografis yang tidak ringan, pemerintah mampu mempertahankan keseimbangan kebijakan agar inflasi tetap terkendali tanpa mengorbankan kepentingan petani maupun konsumen.

Dengan koordinasi kebijakan yang lebih terintegrasi, Indonesia diharapkan dapat terus menjaga stabilitas harga dan mempertahankan pertumbuhan yang inklusif pada tahun-tahun mendatang.

Exit mobile version