Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Naiknya Harga BBM Nonsubsidi Tidak Mendorong Lonjakan Harga Pangan

Share your love

Nasional – Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa, menegaskan bahwa stabilitas harga pangan sangat dipengaruhi oleh biaya distribusi, dan selama tarif angkutan tidak mengalami kenaikan akibat terjaganya BBM bersubsidi, tekanan harga dapat ditekan.

Kenaikan harga BBM (bahan bakar minyak) nonsubsidi tidak serta-merta mendorong lonjakan harga pangan, seiring kebijakan pemerintah mempertahankan harga BBM bersubsidi yang menjaga biaya distribusi tetap terkendali sepanjang Ramadan hingga pasca Idulfitri 2026.

“Kami sebenarnya sudah rapat dengan teman-teman asosiasi pengelola truk se-Indonesia. Sepanjang BBM bersubsidi tidak dinaikkan, maka tidak ada kenaikan angkutan. Jadi ini kita patut bersyukur kebijakan Bapak Presiden yang tidak menaikkan BBM bersubsidi. Tentu kalau truknya tidak naik, otomatis tidak mempengaruhi harga pangan, relatif masih aman,” ujar Ketut di Jakarta.

Dampak dari terkendalinya biaya distribusi tersebut tercermin pada pergerakan harga pangan yang cenderung stabil tanpa lonjakan signifikan. Berdasarkan data Panel Harga Pangan Bapanas yang membandingkan periode bulan puasa 19 Februari 2026–20 Maret 2026 dengan periode pasca Ramadan 21 Maret 2026–18 April 2026, sejumlah komoditas menunjukkan pergerakan yang relatif terkendali.

Beras medium tercatat stabil dari Rp 13.383/kilogram (kg) menjadi Rp 13.379/kg, sementara beras SPHP berada di kisaran Rp 12.442–Rp 12.444/kg. Bawang putih juga mengalami penurunan dari Rp 38.634 menjadi Rp 38.310/kg, serta cabai merah keriting turun dari Rp 44.220 menjadi Rp 43.281/kg.

Sejumlah komoditas lain mengalami fluktuasi harga namun masih dalam batas wajar, seperti telur ayam ras dari Rp 31.561 menjadi Rp 31.648/kg dan gula konsumsi dari Rp 18.317 menjadi Rp 18.618/kg. Kondisi ini menunjukkan bahwa pergerakan harga pangan selama periode tersebut masih berada dalam koridor yang terkendali.

Di sisi lain, komoditas yang masih menjadi perhatian adalah cabai rawit merah yang berada di kisaran Rp 75.726/kg atau sekitar 32 persen di atas HAP, meskipun sudah mulai menunjukkan tren penurunan dalam beberapa waktu terakhir.

Ketut menjelaskan bahwa kenaikan pada cabai rawit merah lebih dipengaruhi faktor cuaca yang menghambat proses panen, bukan karena gangguan distribusi.

“Memang di awal harga cabai rawit merah sempat tinggi karena faktor cuaca. Saat Ramadan yang kita harapkan kering, justru hujan, sehingga petani tidak bisa memetik cabai meskipun stok sebenarnya tersedia. Ini yang membuat pasokan terganggu dan harga naik. Sekarang harganya masih di kisaran 70 ribuan, tapi trennya sudah menurun dan kami perkirakan akan semakin stabil ke depan,” jelas Ketut.

Selain faktor distribusi, pemerintah juga memastikan kondisi pasokan pangan tetap terjaga untuk menopang stabilitas harga. Berbagai intervensi seperti operasi pasar, bantuan pangan, serta penguatan distribusi melalui BUMN pangan terus dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara ketersediaan dan keterjangkauan harga.

Sejalan dengan itu, Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa stabilitas harga pangan merupakan mandat langsung yang harus dijaga secara konsisten.

“Kestabilan harga pangan pokok strategis bagi masyarakat juga merupakan perintah Presiden. Kita harus tegas, hukum yang menjadi panglima, bukan menteri. Dalam kondisi geopolitik yang memanas, pelaku usaha, khususnya importir, tidak boleh mengambil keuntungan secara berlebihan,” ungkap Amran ang juga Menteri Pertanian.

“Kami sudah panggil seluruh pihak yang terkait impor, tidak boleh ada kenaikan harga yang drastis. Jika ada yang melanggar, tentu akan kami evaluasi, termasuk izin impornya tidak boleh naik harga drastis semua yang tergantung impor dan saya yang tanda tangan,” jelas Amran.

Sehingga dengan terjaganya biaya distribusi, dukungan pasokan yang memadai, serta penguatan intervensi di lapangan, pemerintah optimistis stabilitas harga pangan nasional dapat terus dipertahankan, bahkan di tengah berbagai dinamika eksternal yang terjadi.

Saat ini Kementerian/lembaga (K/L) terus memperkuat sinergi dalam menjaga ketahanan pangan nasional di tengah dinamika global, krisis energi, serta dampak perubahan iklim. Upaya ini dilakukan untuk memastikan ketersediaan pangan tetap aman, stabil, dan berkelanjutan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Share via
Copy link