Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Rupiah dan IHSG Menguat, Pasar Mulai Merespon Positif Koordinasi Pemerintah dan BANK Indonesia

Share your love

Opini – Pasar keuangan nasional menunjukkan sinyal pemulihan setelah nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kompak menguat dalam beberapa hari terakhir. Penguatan tersebut terjadi setelah Bank Indonesia mengambil langkah kebijakan moneter yang lebih agresif dengan menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,50 persen serta memperkuat koordinasi dengan pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi dan memulihkan kepercayaan investor.

Rupiah yang sebelumnya sempat menyentuh level terendah sepanjang sejarah di kisaran Rp18.190 per dolar AS mulai menunjukkan penguatan pasca keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga secara off-cycle pada 9 Juni 2026. Setelah kebijakan tersebut diumumkan, rupiah bergerak menguat mendekati level Rp18.000 per dolar AS.

Di pasar saham, respons investor terlihat lebih kuat. IHSG yang sebelumnya mengalami tekanan tajam berhasil mencatat rebound signifikan. Pada perdagangan 9 Juni, IHSG melonjak lebih dari 7 persen dan melanjutkan penguatan pada sesi berikutnya, mencerminkan meningkatnya optimisme pasar terhadap arah kebijakan ekonomi nasional.

Penguatan pasar juga didorong oleh sinyal koordinasi yang lebih erat antara otoritas fiskal dan moneter. Pemerintah dan Bank Indonesia sepakat meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik guna menarik kembali arus modal asing yang sebelumnya keluar dari pasar Indonesia. Langkah tersebut dipandang sebagai upaya untuk memperkuat stabilitas rupiah sekaligus mengembalikan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi nasional.

Menanggapi perkembangan tersebut, Peneliti Indonesia Public Policy and Economic Studies (IPPES), Adi Purwanto Nur Atmojo., menilai pasar sedang memberikan sinyal positif terhadap langkah-langkah yang ditempuh pemerintah dan Bank Indonesia.

“Pasar merespons positif dari upaya Pemerintah dan BI untuk koordinasi erat, khususnya pasca kenaikan suku bunga BI. Ini menunjukkan bahwa pelaku pasar masih menaruh perhatian besar terhadap konsistensi kebijakan dan sinergi antarotoritas ekonomi,” ujar Adi Purwanto Nur Atmojo.

Menurut Adi, tantangan berikutnya adalah menjaga momentum pemulihan tersebut agar tidak hanya bersifat jangka pendek. Ia mengingatkan bahwa pasar masih akan mencermati dampak berbagai kebijakan lanjutan, termasuk penyesuaian harga BBM non-subsidi yang berpotensi memengaruhi ekspektasi inflasi dan sentimen investor.

“Perlu menjaga momentum, khususnya pasca kenaikan BBM non-subsidi. Harapannya, momentum positif ini dapat terus berlanjut dalam jangka pendek sehingga menjadi fondasi yang lebih kuat bagi pemulihan pasar keuangan nasional,” katanya.

Lebih lanjut, Adi menekankan pentingnya disiplin fiskal dan konsistensi kebijakan pemerintah untuk memastikan kepercayaan pasar kembali pulih secara berkelanjutan.

“Pemerintah perlu menjaga kesehatan fiskal dan memastikan kebijakan prioritas berjalan secara terukur. Pasar membutuhkan kepastian arah kebijakan. Dengan konsistensi tersebut, kepercayaan investor dapat kembali terbangun dan menjadi modal penting bagi stabilitas ekonomi nasional ke depan,” tutupnya.

Meski penguatan rupiah dan IHSG menjadi sinyal yang menggembirakan, sejumlah ekonom menilai keberlanjutan tren tersebut tetap akan sangat bergantung pada konsistensi kebijakan pemerintah, stabilitas fiskal, serta kemampuan otoritas menjaga kepercayaan pasar di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung.

Share via
Copy link