Newsletter Subscribe
Enter your email address below and subscribe to our newsletter
Enter your email address below and subscribe to our newsletter
Ekonomi – GREAT Institute memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berkisar pada level 5,3 hingga 5,6 persen pada 2026. Peneliti ekonomi Great Institute Adrian Nalendra Perwira mengatakan tantangan utama pada 2026 adalah fragmentasi perdagangan global dan normalisasi harga komoditas.
“Jadi, sebagai pendorong pertumbuhan yang paling praktikal di tahun 2026, kemungkinan kita tidak bisa terlalu mengandalkan pada sektor perdagangan,” ucap Adrian di kantor Great Institute, Jakarta Selatan, Sabtu 10 Januari 2026. Menurutnya, hal itu terlihat dari surplus ekspor-impor energi yang mulai menipis dalam satu tahun terakhir.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, neraca perdagangan Januari hingga November 2025 mengalami surplus sebesar US$ 38,54 miliar. Surplus sepanjang Januari hingga November 2025 ini ditopang oleh surplus komoditas nonmigas sebesar US$ 56,15 miliar. Sementara komoditas migas masih mengalami defisit US$ 17,61 miliar.
Adrian juga mengatakan ada tiga syarat agar pertumbuhan ekonomi 5,3-5,6 persen bisa tercapai. Pertama, konsumsi rumah tangga-yang menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi-harus terus ditopang. Menurutnya, diperlukan stimulus untuk kelas menengah serta reformasi lapangan kerja agar daya beli masyarakat bisa meningkat.
Kedua, dari sisi pengeluaran pemerintah. Ia mengatakan belanja negara harus produktif agar bisa mendorong pertumbuhan ekonomi. Selain produktif, Adrian menyebut timing juga menjadi faktor penting dalam belanja. Sebab, selama ini belanja pemerintah baru meningkat di penghujung tahun anggaran. “Tetapi, kami lihat ada indikasi untuk di tahun 2026 ini Menteri Keuangan melakukan frontloading dalam spending,” kata dia.
Syarat ketiga adalah transformasi dalam bidang ketenagakerjaan, struktural usaha, manajemen utang, dan program prioritas. Di bidang ketenagakerjaan, Adrian mengatakan transformasi harus dilakukan dari segi penawaran dan permintaan serta regulasi.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meyakini ekonomi Indonesia bisa tumbuh hingga 6 persen tahun ini. Angka itu melebihi target yang telah ditetapkan pemerintah sebesar 5,4 persen.
Menurut Purbaya, angka 6 persen tidak mustahil lantaran kebijakan fiskal dan moneter sudah tersinkronisasi. “Kalau saya lihat kemarin fiskal dan moneter masih baru agak sinkron di akhir tahun. Sekarang sudah lebih sinkron sehingga ke depan mesin fiskal, mesin moneter, dan sektor swasta akan bertumbuh bergerak lebih cepat, akan hidup semua,” kata dia dalam konferensi pers APBN Kita di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis, 8 Januari 2026.