Newsletter Subscribe
Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Nasional – Dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mendapat apresiasi dari kalangan aktivis buruh dan pengamat ekonomi di Jawa Tengah. Sejumlah program pemerintah dinilai berpotensi memperkuat aktivitas ekonomi, memperluas kesempatan kerja, dan mendorong perkembangan industri padat karya.
Apresiasi tersebut mengemuka dalam diskusi publik bertajuk “Dua Tahun Prabowo-Gibran, Masa Depan Industri Padat Karya dan Kerja Layak di Jateng” yang diselenggarakan Karya Milenial Serasi di Teman Teduh Cafe, Semarang, Jumat (23/10/2026).
Diskusi tersebut menghadirkan pengamat ekonomi Yusuf Wicaksono dan aktivis pemuda pro buruh Muhammad Raehan. Kegiatan ini diikuti mahasiswa, pemuda, serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Dalam forum tersebut, para peserta membahas perkembangan ekonomi daerah, pengembangan industri, program Makan Bergizi Gratis (MBG), penguatan ekonomi desa, serta kebijakan ketenagakerjaan yang dinilai memiliki keterkaitan dengan penciptaan lapangan kerja.
Aktivis buruh Muhammad Raehan memberikan apresiasi terhadap arah kebijakan pemerintah yang mendorong aktivitas ekonomi dan membuka peluang penyerapan tenaga kerja. Meski demikian, ia menekankan pentingnya memastikan perkembangan tersebut diikuti peningkatan kesejahteraan pekerja.
Menurut Raehan, pembangunan industri padat karya perlu ditempatkan sebagai bagian penting dari strategi memperkuat perekonomian nasional. Sektor ini memiliki potensi menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar sekaligus memberikan penghasilan bagi masyarakat.
Ia menilai, keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari pertumbuhan ekonomi dan jumlah investasi. Kualitas pekerjaan, kepastian pendapatan, perlindungan tenaga kerja, serta keberlanjutan usaha juga perlu menjadi perhatian.
Pertumbuhan Ekonomi Jawa Tengah Jadi Modal
Pengamat ekonomi Yusuf Wicaksono menyoroti pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah yang berada di atas pertumbuhan nasional pada triwulan I 2026.
Berdasarkan angka yang dipaparkan dalam diskusi, ekonomi Jawa Tengah tumbuh 5,89 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy), sedangkan ekonomi nasional tumbuh 5,61 persen pada periode yang sama.
Pertumbuhan tersebut dinilai menjadi modal bagi pengembangan kegiatan usaha, termasuk industri pengolahan, perdagangan, pertanian, dan sektor lain yang memiliki keterkaitan dengan penyerapan tenaga kerja.
Menurut Yusuf, perkembangan ekonomi perlu diikuti peningkatan kapasitas produksi dan terbukanya kesempatan kerja agar manfaat pertumbuhan dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Aktivitas perusahaan besar, pengembangan investasi, serta penguatan rantai pasok lokal menjadi sejumlah faktor yang dapat mendorong perputaran ekonomi daerah.
Pengembangan industri hilirisasi juga dinilai berpotensi meningkatkan nilai tambah produk, memperluas kebutuhan tenaga kerja, dan membuka peluang usaha bagi pemasok maupun pelaku UMKM di sekitar kawasan industri.
Salah satu proyek yang disoroti dalam diskusi adalah pengembangan industri pengolahan di Cilacap. Namun, dampak proyek terhadap penyerapan tenaga kerja dan ekonomi lokal tetap bergantung pada realisasi investasi, kebutuhan tenaga kerja, serta keterlibatan pelaku usaha setempat.
MBG Dinilai Buka Peluang Ekonomi Baru
Selain sektor industri, program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu perhatian dalam diskusi karena memiliki keterkaitan dengan sektor pertanian, peternakan, perdagangan, distribusi pangan, dan jasa penyediaan makanan.
Dari perspektif ekonomi, program tersebut berpotensi menciptakan permintaan terhadap berbagai komoditas pangan sekaligus membuka peluang pasar bagi petani, peternak, pedagang, koperasi, dan UMKM.
Operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) juga membutuhkan tenaga kerja untuk kegiatan produksi, pengolahan, distribusi, dan pelayanan.
Data Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Jawa Tengah yang disampaikan dalam forum mencatat terdapat 3.826 SPPG di Jawa Tengah per Maret 2026, dengan penyerapan tenaga kerja sekitar 164.000 orang.
Angka tersebut menunjukkan besarnya aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan operasional layanan pemenuhan gizi. Meski demikian, manfaat program terhadap perekonomian lokal akan bergantung pada seberapa besar pengadaan bahan pangan melibatkan pemasok daerah dan pelaku usaha setempat.
Raehan menilai, keterlibatan petani dan UMKM dalam program pemerintah menjadi salah satu aspek penting yang perlu diperkuat. Dengan rantai pasok yang terhubung, perputaran ekonomi berpotensi menjangkau kelompok masyarakat yang lebih luas.
Apresiasi Harus Diikuti Peningkatan Kesejahteraan Buruh
Dalam diskusi tersebut, Raehan juga menyoroti pentingnya kebijakan upah dan perlindungan pekerja di tengah perkembangan industri.
Upah Minimum Provinsi (UMP) Jawa Tengah 2026 ditetapkan sebesar Rp2.327.386, naik 7,28 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, upah minimum kabupaten/kota memiliki besaran berbeda sesuai ketentuan di masing-masing daerah.
Dari sisi ekonomi, peningkatan pendapatan pekerja berpotensi menjaga daya beli rumah tangga dan mendukung konsumsi masyarakat. Konsumsi yang terjaga dapat memberikan efek lanjutan terhadap aktivitas perdagangan dan UMKM.
Namun, peningkatan kesejahteraan buruh perlu berjalan beriringan dengan produktivitas, keberlanjutan usaha, dan kepastian hubungan kerja.
Raehan menilai, pemerintah, pelaku industri, dan pekerja perlu membangun hubungan yang saling mendukung agar pengembangan industri padat karya tidak hanya menghasilkan pertumbuhan produksi, tetapi juga memberikan manfaat bagi tenaga kerja.
Di sisi lain, tantangan pengangguran masih memerlukan perhatian. Ketersediaan lowongan kerja perlu diimbangi dengan peningkatan keterampilan agar pencari kerja dapat memenuhi kebutuhan industri.
Penguatan pendidikan vokasi, pelatihan kerja, dan hubungan antara lembaga pendidikan dengan perusahaan menjadi langkah penting untuk mengurangi kesenjangan kompetensi tenaga kerja.
Industri Padat Karya Perlu Terus Diperkuat
Diskusi Karya Milenial Serasi menegaskan pentingnya menghubungkan pertumbuhan ekonomi, investasi industri, program pemerintah, dan peningkatan kesejahteraan pekerja.
Apresiasi yang disampaikan aktivis buruh terhadap arah kebijakan pemerintah menunjukkan adanya harapan agar perkembangan ekonomi dapat membuka lebih banyak kesempatan kerja. Pada saat yang sama, perhatian terhadap kualitas pekerjaan menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan pertumbuhan.
Industri padat karya memiliki peran strategis karena mampu menghubungkan kegiatan produksi dengan penyerapan tenaga kerja. Jika didukung investasi yang berkelanjutan, peningkatan keterampilan, dan rantai pasok domestik yang kuat, sektor ini berpotensi memberikan kontribusi lebih besar terhadap perekonomian.
Bagi Jawa Tengah, tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan ekonomi dapat diterjemahkan menjadi peningkatan produktivitas, perluasan kesempatan kerja, dan penguatan daya beli masyarakat.
Dengan demikian, keberhasilan pembangunan ekonomi tidak hanya tercermin dalam angka pertumbuhan, tetapi juga dalam kemampuan masyarakat memperoleh pekerjaan yang layak dan menikmati hasil pembangunan secara berkelanjutan.