Newsletter Subscribe
Enter your email address below and subscribe to our newsletter
Enter your email address below and subscribe to our newsletter
Internasional – China mengumumkan ekonomi tumbuh 5% pada 2025 yang didukung rekor surplus perdagangan. Pertumbuhan ekonomi itu memenuhi target pemerintah. Namun, sepanjang 2025, China menghadapi tantangan dari domestik, salah satunya sektor properti yang lesu.
Mengutip BBC, ditulis Selasa (20/1/2026), ekonomi terbesar kedua di dunia ini mencapai target meski pertumbuhan melambat menjadi 4,5% pada kuartal IV 2025.
Tahun lalu di China ditandai dengan kesulitan untuk meningkatkan pengeluaran domestik, krisis properti yang berkepanjangan dan gejolak yang disebabkan oleh kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Ahli mengatakan, angka-angka tersebebut menunjukkan ekonomi dengan dua kecepatan yakni manufaktur dan ekspor yang menopang ekspansi. Sementara itu, masyarakat masih berhati-hati dalam berbelanja dan pasar properti terus membebani China.
Meski angka resmi China menunjukkan negara itu mencapai target pertumbuhannya, beberapa analis mempertanyakan keakuratan dana tersebut. Hal ini mengingat lemahnya investasi dan belanja konsumen.
“Kami pikir pertumbuhan lebih lemah daripada yang ditunjukkan oleh angka remi,” ujar Ekonom Capital Economics, Zichun Huang dikutip dari BBC.
Ia menambahkan, angka resmi itu melebih-lebihkan laju ekspansi ekonomi sekitar 1,5%.
Pada Senin, data juga menunjukkan China mencatat angka kelahiran terendah tahun lalu sejak pencatatan dimulai pada 1949. Total kelahiran turun menjadi 7,9 juta pada 2025, berdasarkan angka dari Biro Statistik Nasional China.
Ekonom menuturkan, penurunan angka kelahiran akan menekan tantangan domestik dengan melemahkan permintaan perumahan dan barang konsumsi. Ini menambah tekanan pada pasar properti yang sudah kesulitan.
Pejabat mengatakan, populasi negara itu menurun untuk tahun keempat berturut-turut pada 2025, turun 3,4 juta menjadi 1,4 miliar. Angka-angka itu menyoroti krisis demografis China yang semakin dalam bahkan ketika pemerintah mencoba meningkatkan angka kelahiran dengan menawarkan insentif kepada pasangan untuk memiliki lebih banyak anak.
China Hadapi Tantangan
Pekan lalu, China melaporkan surplus perdagangan terbesar di dunia sepanjang masa, nilai barang dan jasa yang dijual ke luar negeri dibandingkan dengan impornya – sebesar USD 1,19 triliun didorong oleh peningkatan ekspor ke pasar di luar AS.
“China secara efektif mendorong pertumbuhan melalui ekspor dengan kerugian, dan itu tidak berkelanjutan. Pemotongan harga mungkin menjaga volume tetap tinggi, tetapi hal itu merusak keuntungan dan, pada akhirnya, pertumbuhan,” ujar Ekonom Bank Prancis Natixis, Alicia Garcia-Herrero, kepada BBC.
Sementara itu, Kepala Biro Statistik Nasional China, Kang Yi mengatakan, ekonomi negara itu “menghadapi masalah dan tantangan, termasuk pasokan yang kuat dan permintaan yang lemah”. Namun, ia menambahkan, negara itu akan mampu “mempertahankan momentum pertumbuhan yang stabil dan sehat tahun ini.”
Tantangan domestik China paling terlihat di sektor properti.
China telah bergulat dengan penurunan pasar perumahan yang berkepanjangan, dan meningkatnya utang pemerintah daerah, membuat bisnis lebih ragu untuk berinvestasi guna ekspansi, dan konsumen lebih berhati-hati dalam pengeluaran.